Mengenal Hukum-Hukum Haid (2)

Sebagai lanjutan dari pembahasan haid yang telah berlalu, berikut beberapa masalah yang belum sempat kami bawakan pada edisi sebelumnya:

Hukum ash-shufrah (cairan kuning yang bercampur merah) dan al-kudrah (cairan keruh yang menyerupai nanah).

Dari Ummu Athiyah -radhiallahu anha- dia berkata, “Kami (di zaman Nabi) sama sekali tidak menghukumi ash-shufrah dan al-kudrah sebagai haid, kalau keduanya keluar setelah masa suci.” (HR. Abu Daud no. 307, An-Nasai: 1/186 dan Ibnu Majah no. 647)

Maka hadits ini tegas menunjukkan bahwa: Kalau keduanya keluar pada masa adat haid maka keduanya dihukumi haid. Tapi kalau keluarnya setelah berlalunya masa adat haid, maka dia tidak dianggap haid sama sekali, bahkan dia suci dan tetap wajib mengerjakan shalat serta kewajiban lainnya. Ini adalah pendapat mayoritas ulama, di antaranya: Aisyah -radhiallahu anha-, Said bin Al-Musayyab, Atha`, Sufyan Ats-Tsauri, Al-Auzai, Abu Hanifah, Ishaq bin Rahawaih, Abdurrahman bin Mahdi dan selainnya.

Apakah Wanita Hamil Bisa Haid?
Kita katakan: Hukum asal dan kaidah umum yang biasanya terjadi adalah bahwa wanita yang hamil tidak bisa haid. Akan tetapi pada sebagian wanita yang keluar dari hukum umum ini sehingga dia tetap mengeluarkan darah di masa-masa hamilnya. Masalahnya apa hukum darah yang keluar ini?

Jawabannya: Kalau darah yang keluar saat hamil ini mempunyai ciri-ciri darah haid dan keluarnya juga pada masa adat haid, maka darah itu dihukumi haid dan berlaku pada wanita itu hukum-hukum haid.
Kalau darah yang keluar tidak sesuai dengan ciri-ciri haid atau keluarnya bukan pada masa adat haid maka dia tidaklah dihukumi haid, bahkan wanita itu tetap dianggap suci dan berlaku padanya hukum-hukum wanita yang suci.

Inilah pendapat yang benar, yaitu wanita yang hamil memungkinkan untuk haid. Sebab, pada prinsipnya, darah yang keluar dari rahim wanita adalah darah haid selama tidak ada sebab yang menolaknya sebagai darah haid. Dan tidak ada keterangan dalam Al Qur’an maupun Sunnah yang menolak kemungkinan terjadinya haid pada wanita hamil.

Dan juga kita katakan: Kalau -misalnya- pada suatu bulan darah haid keluar pada masa adat haid dalam keadaan dia tidak hamil, lantas bulan depannya darah dengan ciri-ciri yang sama dan keluar pada waktu yang sama, tapi dalam keadaan dia hamil. Maka sungguh suatu keanehan kalau darah pada bulan pertama dihukumi haid sedang pada bulan berikutnya tidak dihukumi haid, padahal ciri-ciri dan waktu keluarnya sama.

Inilah pendapat Qatadah, Malik (dalam satu riwayat), pendapat terbaru Asy-Syafi’i, Ishaq bin Rahawaih dan Bakr bin Abdillah Al-Muzani. Bahkan disebutkan dalam kitab Al-Ikhtiyarat Ibnu Taimiah (hal. 30), “Al-Baihaqi menyatakan bahwa ini adalah salah satu riwayat dari Imam Ahmad, bahkan dinyatakan bahwa Imam Ahmad telah kembali kepada pendapat ini”. Ini adalah pendapat yang dikuatkan oleh An-Nawawi, Ibnu Taimiah, Ibnu Al-Qayyim, Asy-Syaikh Ibnu Utsaimin dan Asy-Syaikh Muqbil -rahimahumullahu jamian-.

Dengan demikian, terjadilah sesuatu pada wanita hamil ketika haid, sebagaimana apa yang terjadi pada wanita yang tidak hamil, kecuali dalam dua masalah:

1. Talak. Diharamkan mentalak (mencerai) wanita tidak hamil dalam keadaan haid, tetapi itu tidak diharamkan terhadap wanita hamil. Sebab talak (perceraian) dalam keadaan haid terhadap wanita yang tidak hamil menyalahi firman Allah Ta’ala, “Apabila kamu menceraikan istri-istrimu maka hendaklah kamu ceraikan mereka pada waktu mereka dapat (menghadapi) iddahnya (yang wajar).” (QS. Ath-Thalaq: 1).
Adapun mencerai wanita hamil dalam keadaan haid tidak menyalahi firman Allah Ta’ala. Sebab, siapa yang mencerai wanita hamil berarti ia menceraikannya pada saat dalam menghadapi masa iddahnya, baik dalam keadaan haid atau suci, karena masa iddahnya adalah dalam kehamilan. Untuk itu, tidak diharamkan mencerai wanita hamil, sekalipun setelah melakukan jima’ (senggama), dan berbeda hukumnya dengan wanita tidak hamil.

2. Iddah. Bagi wanita hamil iddahnya berakhir pada saat melahirkan, meski pernah haid ketika hamil ataupun tidak. Berdasarkan firman Allah Ta’ala, “Dan perempuan-perempuan yang hamil, waktu iddah mereka itu adalah sampai mereka melahirkan kandungannya.” (QS. Ath Thalaq: 4).

Beberapa Masalah Seputar Darah Haid.
1. Seorang wanita mempunyai adat 5 hari. Pada hari ke-5 darah sudah tidak keluar tapi dia belum melihat tanda suci, apa yang dia lakukan?
Jawab: Dia sudah dihukumi suci dan wajib untuk mandi, walaupun tanda suci tidak keluar.

2. Kalau ada wanita mempunya adat 6 hari, lantas pada 2 hari pertama keluar darah, tapi pada 2 hari berikutnya tidak keluar darah, dan dua hari terakhirnya darah keluar lagi. Apa hukum 2 hari yang tidak keluar darah padanya?
Jawab: Tetap dihukumi sebagai masa haid walaupun darah tidak keluar, karena dia masih berada dalam masa adatnya. Kecuali kalau pada hari ketiga itu ada tanda suci, maka berarti dia dianggap suci pada kedua hari itu (hari 3 dan 4), lantas haid lagi pada dua hari berikutnya. Wallahu a’lam. Rincian ini disebutkan oleh Asy-Syaikh Ibnu Utsaimin -rahimahullah- dan beliau menisbatkannya kepada mazhab Asy-Syafi’iyah dan Al-Hanafiah, serta yang dikuatkan oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiah.

3. Seorang wanita mempunyai adat 7 hari, tapi pada sebagian bulan darah keluar selama 10 hari. Apa hukum darah yang keluar pada tiga hari terakhir?
Jawab: Kalau darah yang keluar pada tiga hari terakhir itu masih mempunyai ciri-ciri darah haid maka berarti dia masih dalam masa haid, kecuali kalau tanda suci sudah keluar pada hari ke-7 maka berarti setelahnya bukan lagi darah haid.
Kalau darah pada 3 hari terakhir itu tidak mempunyai ciri-ciri haid maka berarti wanita ini terkena istihadhah, dan tidak berlaku padanya hukum haid. Insya Allah akan datang pembahasan khusus mengenai istihadhah.

4. Kebalikannya, seorang wanita mempunya adat 7 hari, tapi pada hari ke-5 sudah keluar tanda suci. Apakah dia sudah dianggap suci?
Jawab: Ya, dia sudah suci dengan keluarnya tanda suci, walaupun adatnya belum selesai. Kedua masalah di atas disebutkan oleh Asy-Syaikh Ibnu Al-Ustaimin -rahimahullah-.

5. Hukum memakai obat-obatan perangsang atau penunda haid.
Jawab: Asy-Syaikh Ibnu Al-Utsaimin berkata, “Walaupun secara hukum dibolehkan, namun lebih utama untuk tidak menggunakan alat pencegah haid kecuali jika dianggap perlu. Karena membiarkan sesuatu secara alami akan lebih menjamin terpeliharanya kesehatan dan keselamatan.”
Karenanya para ulama memberikan tiga syarat dalam pembolehan penggunaan obat-obatan ini:
1. Tidak membahayakan dan memudharatkan dirinya. Kalau memberikan mudharat pada dirinya, maka dia tidak diperbolehkan untuk memakainya. Allah Ta’ala berfirman, “Dan janganlah kalian menjatuhkan diri-diri kalian sendiri ke dalam kebinasaan.” (QS. Al Baqarah: 195).
Di antara mudharat yang mungkin timbul adalah: Membahayakan dirinya, mengacaukan adat (siklus) haidnya dan beresiko menjadi mandul. Kalau ketiga ini dipastikan tidak adanya maka boleh memakai obat-obatan tersebut.
2. Tentunya dengan seizin suami.
3. Niat yang benar. Maka tidak dibolehkan seorang wanita memakai obat perangsang haid dengan tujuan agar dia tidak mengerjakan shalat dan puasa, dan semacamnya.

[Referensi: Risalah fi Ad-Dima` Ath-Thabi’iyah li An-Nisa` karya Asy-Syaikh Ibnu Al-Utsaimin, Shahih Fiqh As-Sunnah karya Abu Malik: 1/206-209]

Satu Balasan ke Mengenal Hukum-Hukum Haid (2)

  1. Teknomotif mengatakan:

    Bagus Bu, ilmunya bermanfaat bagi banyak orang. Semoga konsisten terus di update ya Bu.

    Jazakallah khairan. Insya Allah, semoga selalu dimudahkan oleh Allah untuk terus memposting artikel yang bermanfaat bagi orang lain. Amin.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: