MASA FRUSTRASI DAN 5 CARA MENGATASINYA

Batita gampang frustrasi lantaran kemampuannya masih terbatas.

Baru sebentar Nira (2;8) menggunakan spidol untuk mewarnai buku gambarnya, semua sudah berantakan. Ujung spidolnya melesap ke dalam karena terlalu keras ditekan. Buku gambarnya pun robek. Gadis kecil berkucir dua itu mulai menangis keras. “Ini sudah rada lumayan, biasanya baru mulai sudah bete,” komentar sang mama.

Nira dan anak-anak lain sebayanya memang banyak dihinggapi rasa frustrasi akibat harapan melebihi kemampuannya. Pada kasus Nira, gadis cilik itu biasa membiarkan spidolnya terbuka selama ia mewarnai buku gambarnya. Akibatnya, spidolnya jadi kering. Ketika hendak digunakan untuk mewarnai lagi, warnanya sudah tidak keluar. Karena tidak mengerti apa yang terjadi, ia berusaha menekan spidolnya sekeras mungkin ke buku gambar dengan harapan tintanya akan keluar lagi. Tapi ternyata hasilnya tidak sesuai harapan, ujung spidolnya malah mendelep sedangkan buku gambarnya robek. Akibatnya bisa ditebak, Nira frustrasi dan mengungkapkannya lewat ledakan tangisan.

Frustrasi mengacu pada suatu kondisi yang dialami oleh batita ketika kebutuhannya tak terpenuhi. Diekspresikan dalam bentuk tindakan agresif. Frustrasi melibatkan beberapa perasaan sekaligus, seperti marah, sedih, gelisah, putus asa, dan sebagainya. Akumulasi perasaan ini membuat batita tak gampang mengenalinya apalagi mengolahnya dan kemudian mengatasinya. Dengan keterbatasan-keterbatasan yang dimiliki, seperti masih terbatasnya perkembangan bahasa, kognitif, dan emosi, ia kesulitan mengekspresikan kebutuhan secara verbal serta memecahkan masalahnya.

KAPAN MUNCULNYA?

Paling sering rasa frustrasi muncul saat bermain, karena di sinilah batita banyak mengerjakan sesuatunya sendiri tanpa dibantu orang lain. Misal, saat berusaha melepaskan mainan, ia akan berusaha sekuat tenaga menarik mainan supaya terbuka/terlepas. Padahal bisa jadi untuk membuka/melepas mainan itu ada tekniknya. Nah, karena tak kunjung lepas, mainan itu lalu dibanting-banting ke lantai sebagai luapan rasa frustrasinya.

Waktu makan juga kerap memunculkan rasa frustrasi. Di usia ini anak mulai belajar makan sendiri. Menyendok makanan di piring bukan perkara mudah bagi si batita. Akibatnya, sering kali ia frustrasi karena makanan yang seharusnya masuk ke mulut malah berantakan di depannya, sementara hasrat untuk makan sudah di ujung mulut. Alhasil, piring yang ada di depannya malah dibanting/ditumpahkan.

Rasa frustrasi juga bisa muncul di saat mandi. Bagi kebanyakan anak batita, waktu mandi bukanlah saat yang menyenangkan. Air yang terlalu dingin, rambut yang basah, busa sabun/sampo yang terasa perih di mata, dan sebagainya membuat acara mandi bisa memicu frustrasi. Karena tak bisa menolak, saat mandi anak lalu menunjukkan “kemarahannya” dengan menyibak-nyibakan air hingga membasahi orang dewasa yang memandikannya.

KADAR BERBEDA

Setiap anak memiliki ambang toleransi terhadap rasa frustrasi yang berbeda-beda. Ada yang mudah tersulut ada juga yang tidak. Ambang toleransi tersebut dipengaruhi oleh faktor bawaan dan faktor lingkungan.

Faktor bawaan terkait dengan temperamen anak. Anak bertemperamen sulit memiliki ambang toleransi yang lebih rendah sehingga lebih mudah tersulut rasa frustrasinya. Sementara anak yang bertemperamen mudah (easy going) memiliki ambang toleransi yang lebih tinggi sehingga tak mudah frustrasi.

Sedangkan faktor lingkungan terkait dengan contoh yang diberikan lingkungan kepada anak dalam memecahkan masalah. Umpama, jika orangtua kerap menunjukkan reaksi frustrasi ketika menghadapi masalah, maka anak dengan mudah menirunya. Anak

yang kurang mandiri atau terus dibantu tanpa memiliki kesempatan untuk mencoba melakukan berbagai hal sendiri juga lebih mudah mengalami frustrasi ketika menghadapi masalah.

5 JALAN KELUAR

Orangtua hendaknya tidak gampang terpancing emosi manakala menyaksikan batitanya frustrasi. Lima langkah berikut dapat dijadikan panduan untuk mengatasinya:

1. Peka terhadap kebutuhan anak.

Orangtua hendaknya memahami kebutuhan anak. Ketika anak menunjukkan reaksi frustrasi, seperti membanting mainan, menumpahkan makanan, merobek buku gambar, dan sebagainya, orangtua jangan langsung melarang atau menghardiknya. Tunjukkan dulu empati dengan membantu ia mengidentifikasi perasaannya, “Wah, Nira sedang kesal ya? Kenapa? Spidolnya kering? Sini Mama bantu.”

Reaksi emosi batita masih dipengaruhi oleh kondisi fisiknya, seperti rasa lapar dan lelah. Kondisi tersebut memungkinkan ambang toleransi frustrasi menurun. Jadi, dengan lebih peka terhadap kebutuhan anak, orangtua bisa memahami kondisinya serta mencarikan solusi yang tepat. “Kelihatannya kamu mengantuk, jadi kamu cepat kesal. Kita ke kamar yuk!”

2. Perhatikan hal yang membuatnya frustrasi dan ajarkan cara mengatasinya.

Keterbatasan kognitif membuat batita belum sepenuhnya mampu mengembangkan strategi untuk memecahkan masalah yang sedang dihadapi. Orangtua bisa membantu mengarahkannya untuk memecahkan masalah dengan menunjukkan cara yang dapat dilakukan. Jangan lupa, bantu dulu ia mengidentifikasi pikiran maupun perasaannya. Contoh, “Wah, susah ya melepas mainannya. Kalau susah, tidak perlu dibanting mainannya, coba lepas dari bawah, bisa kan?” Atau bisa juga orangtua mengajari anak untuk meminta bantuan orang lain sekiranya masalah yang dihadapi tak bisa diselesaikannya sendiri.

3. Ungkapkan secara verbal.

Perkembangan kemampuan verbal batita memang masih terbatas. Seperti sudah disinggung di atas, biasakan anak untuk mengungkapkan isi pikiran serta perasaannya secara verbal dengan memberi contoh. Lakukan secara intensif mengingat kemampuan bahasa anak yang masih terbatas. Bantu anak dengan gerakan/bahasa tubuh supaya maksudnya jelas.

4. Kembangkan kemandirian.

Dengan mengembangkan kemandirian, anak jadi terbiasa melakukan berbagai hal sendiri serta memecahkan masalah tanpa tergantung pada orang lain. Berikan stimulus yang tepat untuk melatih kemandiriannya, seumpama, memberikan kesempatan padanya untuk makan sendiri meski hasilnya berantakan, memberikan aneka permainan yang bermanfaat untuk melatih motorik kasar/halus, mengajaknya bercakap-cakap supaya kosakatanya makin bertambah, dan lainnya.

5. Berikan contoh positif.

Terkait dengan keterbatasan kemampuan pengendalian emosinya, orangtua dapat memberikan contoh positif dalam memecahkan masalah sehari-hari. Ketika sedang mengalami kesulitan, orangtua hendaknya tidak marah-marah, membanting barang, atau menampilkan reaksi negatif lainnya, sehingga anak bisa belajar bahwa jalan keluar dari kesulitan bukanlah marah-marah dan merusak barang.

Marfuah Panji Astuti.

Narasumber:

Yelia Dini Puspita, M.Psi.,

psikolog yang berpraktik di beberapa tempat di Jakarta


Satu Balasan ke MASA FRUSTRASI DAN 5 CARA MENGATASINYA

  1. cara dapat dollar mengatakan:

    kalau cara mengatasi frustasi gmana?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: