Makanan bagi Anak Sakit

“Dok, Didi sakit batuk pilek disertai panas tinggi. Saya sudah buatkan bubur tapi Didi tidak mau makan. Didi hanya mau makan kalau dengan nasi Dok.” Keluhan seperti ini masih saja terdengar di ruang praktik. Perawat di bangsal rumah sakit pun sering memesankan makan dalam bentuk bubur secara otomatis untuk setiap anak yang mondok di rumah sakit. Benarkah setiap anak sakit itu harus diberi makan dalam bentuk bubur? Bagaimana sebaiknya kita memberi makan untuk si kecil yang sedang sakit?

Setiap hari, banyak anak-anak dibawa ke tenaga kesehatan oleh karena sakit. Anak-anak memang lebih rentan menderita penyakit dibanding dengan orang dewasa. Sebagian besar keluhan dari anak-anak yang sakit tersebut disebabkan oleh adanya penyakit-penyakit umum seperti: demam, batuk, pilek, maupun diare. Anak yang sakit mengalami peningkatan metabolisme di tubuhnya, sehingga semua anak sakit membutuhkan asupan makanan yang memadai guna memasok kebutuhan zat gizi untuk metabolisme tubuh, yang meningkat tersebut. Biasanya, anak yang sakit akan mengalami penurunan nafsu makan. Bila asupan makannya kurang memadai, anak akan jatuh ke dalam keadaan malnutrisi dan penyakitnya pun menjadi berkepanjangan. Apapun penyakitnya, anak tetap harus mendapatkan zat gizi!

Makanan anak sakit dan sehat

Anjuran untuk semua anak sakit dan sehat pada umumnya adalah sama, kecuali pada penyakit-penyakit khusus, misalnya penyakit gagal jantung, hati, ginjal, diare persisten (menetap) dan sebagainya. Anak yang sedang sakit, sebaiknya tetap melanjutkan makanan seperti yang dimakan sebelum sakit. Kualitas dan kuantitas makanan harus memadai.

Cairan

Pada umumnya, setiap anak sakit harus diberi tambahan cairan. Cairan dalam bentuk ASI, susu, sirup, air tajin, air minum, dan sebagainya. Pada anak yang sedang diare, pemberian cairan ini sangat berarti untuk menyelamatkan jiwanya karena anak diare rentan terhadap keadaan dehidrasi yang dapat merenggut nyawa anak.

ASI

Anak yang masih menetek, ASI harus tetap diberikan sesuai dengan keinginan bayi/anak, baik siang maupun malam. Jika bayi berusia < 6 bulan, ASI diberikan sesering mungkin, baik siang maupun malam, paling sedikit 8 kali dalam 24 jam. Bayi berumur < 6 bulan, hanya dianjurkan untuk diberi ASI saja.

Makanan padat

Anak yang telah mendapatkan makanan padat (berumur lebih dari 6 bulan), harus tetap makan makanan padat dengan tekstur sesuai dengan kemampuan ketrampilan makannya berdasarkan umur. Jika anak telah berumur 1 tahun atau lebih, anak sudah dapat mengonsumsi makanan keluarga yaitu makanan seperti yang dimakan oleh anggota keluarganya yang lain. Anak harus tetap makan makanan dengan kandungan zat gizi yang memadai, makanan tidak dianjurkan untuk dibuat lebih encer atau lebih lembut sehingga kandungan zat gizinya berkurang. Jadi, tiap anak sakit, tidak diharuskan untuk selalu makan bubur.

Bila nafsu makan anak menurun

ASI diberikan lebih sering dan lebih lama. Makanan dibuat lebih bervariasi, berikan makanan kesukaan dan makanan yang lunak untuk mendorong anak agar makan sebanyak mungkin. Berikan makanan-makanan tersebut sedikit tapi sering.

Referensi:

  1. IMCI (Integrated Management of Childhood Ilness): Model chapter for textbooks. WHO/UNICEF. 2001
  2. WHO/UNICEF. IMCI: Assess and classify the child age 2 months up to 5 years old. Diunduh dari http://www.emro.who.int/cah/PDF/IMCI-AdaptionSAA.pdf pada tanggal 8 Januari 2007.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: