“Merusak” Masa Depan Anak-Anak

Sebelumnya, cobalah jawab pertanyaan ini : Katakanlah 30-40 tahun dari sekarang, anda ingin anak anda seperti apa nantinya? Anda ingin ia menjadi apa? Mengapa?

Saya yakin dan percaya bahwa semua orang tua (termasuk saya) menginginkan yang terbaik untuk anak-anaknya. Namun bagaimana dengan kenyataan sehari-hari yang kita lihat sekarang ini?

Saya jadi teringat dengan cerita seorang teman sewaktu ia mengajar kursus bahasa Inggris pada anak-anak TK dan SD beberapa tahun yang lalu. Salah seorang muridnya saat itu tidak membawa pensil warna seperti yang sudah diminta seminggu sebelumnya. Ketika ditanya alasannya, anak tersebut dengan ringannya menjawab, “Mbak tidak masukin ke dalam tas saya”. Saat itu teman saya hanya bisa mengelus dada dan meminta si anak untuk belajar memasukkan peralatannya sendiri ke dalam tasnya karena yang kursus bukan si mbak.

Namun ternyata hal tersebut bukan hanya terjadi di kalangan anak TK dan SD saja. Dalam suatu kesempatan berbincang-bincang dengan seorang kepala sekolah SMA swasta di Jakarta, beliau bercerita bahwa sekarang ini semakin banyak orang tua yang tergopoh-gopoh menyusulkan buku-buku ke sekolah karena pagi harinya tidak terbawa oleh si anak. Seorang kepala sekolah SMA swasta lain bercerita saat di sekolah tersebut dilaksanakan program tinggal di desa selama seminggu, banyak orang tua murid yang sedemikian khawatirnya dan membekali anaknya dengan berbagai hal sampai-sampai tas yang harus dibawa menjadi sangat berat. Bahkan ada orang tua yang meminta ijin untuk ikut ke desa karena khawatir anaknya tidak terurus selama disana!

Mungkin anda tersenyum atau bahkan tidak percaya mendengar cerita ini. Namun, mari kita coba lihat lagi beberapa cerita berikut.

Seorang teman di bagian sumber daya manusia sebuah perusahaan finansial sempat bercerita bahwa saat dilakukan tes masuk bagi calon karyawan baru, banyak pelamar yang datang dengan diantar orang tuanya. Sebagai informasi, tes masuk tersebut adalah untuk lulusan S1. Saat tes masuk sedang berlangsung, para orang tua tersebut duduk di ruang tunggu, menunggui anaknya hingga selesai tes.

Contoh lain adalah seorang ayah yang membantu anaknya yang sedang menyusun skripsi. Beliau yang menelepon teman-temannya untuk menanyakan judul skripsi yang tepat. Beliau pula yang menghubungi berbagai perusahaan untuk menanyakan kemungkinan kerja praktek atau magang bagi anaknya itu.

Beberapa praktisi SDM di berbagai perusahaan mengatakan prosentase kelulusan calon karyawan pada tes psikologi awal mengenai tingkat kecerdasan umumnya cukup tinggi, sekitar 80%. Namun, pada tahap wawancara awal, prosentase kelulusan hanya berkisar antara 30-35%. Pada tahapan wawancara mendalam (in depth interview) yang membahas megenai sikap dan perilaku calon karyawan bahkan lebih parah lagi, hanya sekitar 10% yang bisa dinyatakan lulus. Secara keseluruhan, prosentase kelulusan hanya sekitar 2% dari total pelamar.

Mari kita kembali ke pertanyaan awal tadi. Anda ingin anak anda seperti apa nantinya? Anda ingin ia menjadi apa? Apakah anda ingin ia menjadi bagian dari 2% tersebut, berkarir dengan baik dan bahkan kemudian bisa memiliki perusahaan sendiri dan membuka lowongan pekerjaan bagi orang lain? Atau menjadi bagian dari 98% dan menjadi frustasi karena sudah menganggur 3 tahun setelah lulus?

Kalangan praktisi SDM cenderung menyalahkan kesenjangan antara apa yang diajarkan di sekolah dengan tuntutan dari dunia kerja. Sistem pendidikan di Indonesia cenderung memproduksi lulusan yang pasif, hanya mengandalkan teori serta sangat bergantung pada orang lain atau kelompoknya (gank), sementara dunia kerja membutuhkan orang-orang yang kreatif, cepat beradaptasi dengan perkembangan, praktis, serta bisa membangun jejaring.

Pemerintah pun tampaknya tidak menganggap penting masalah pendidikan ini. Anggaran pendidikan memang meningkat dari 8.1% pada APBN 2005 menjadi 10.9% dalam APBN 2008. Namun angka ini masih jauh dari seharusnya 20% seperti yang tercantum dalam UU Sisdiknas.

Bagaimana dengan peran sebagai orang tua? Menilik kasus anak yang tidak membawa pensilnya di atas, apa yang dilakukan oleh orang tuanya? Tanpa sadar mungkin banyak orang tua yang melakukan hal yang sama seperti di atas; mengambil tanggung jawab dari si anak dengan alasan kasihan, menganggap anak masih terlalu kecil atau apapun alasan lainnya.

Menjadi orang tua ternyata tidak mudah. Menjadi orang tua merupakan pembelajaran seumur hidup dengan cara learning by doing yang penuh dengan trial and error. Orang tua merupakan contoh pertama, contoh utama dan contoh hidup bagi anak-anaknya. Jadi apa yang harus kita lakukan?

Seorang psiko-analisa, Erik Erikson (1904-1994) meyakini bahwa kepribadian seseorang berkembang melalui beberapa tahapan perkembangan dalam hidupnya, mulai dari bayi hingga usia lanjut. Beliau juga menyebutkan dampak dari pengalaman sosial dalam hidup seseorang. Salah satu elemen utama teori Erikson adalah perkembangan identitas ego seseorang (ego identity) dimana identitas ego tersebut akan terus berubah tergantung pada pengalaman baru serta informasi yang didapatkan dari interaksi dengan orang lain sehari-hari. Sebagai tambahan, kesadaran akan kemampuan diri juga bisa memotivasi perilaku dan tindakan seseorang.

Setiap tahapan perkembangan dalam teori Erikson ini adalah mengenai kemampuan seseorang dalam suatu aspek kehidupannya. Jika tahapan ini bisa tertangani dengan baik, orang tersebut akan merasa bangga sehingga mempengaruhi perilaku dan tindakannya dalam tahapan berikutnya. Menurut Erikson, dalam setiap tahapan ada konflik yang harus dialami oleh seseorang yang berfungsi sebegai penanda dilewatinya tahapan tersebut.

Tahapan tersebut dan konfliknya adalah :

    1. 1. Bayi (0-18 bulan) : trust vs mistrust
      Tahapan pertama Erikson ini merupakan tahapan paling penting dalam hidup seseorang. Karena bayi belum bisa apa-apa, pengembangan kepercayaan tahap ini bergantung pada kualitas dari orang yang merawat. Jika orang yang merawat tidak stabil secara emosional, bayi akan tumbuh dengan rasa takut dan percaya bahwa dunia ini bukan tempat yang aman baginya. Pemberian ASI, MPASI, dan makanan padat pertama merupakan bagian penting dalam tahap ini karena menumbuhkan ikatan yang akan berujung pada rasa percaya.
      2. Batita (1.5-3 tahun) : autonomy vs shame & doubt
      Pada tahapan berikutnya, seorang anak mulai belajar untuk memiliki kendali yang lebih besar pada dirinya. Bagian penting dalam tahap ini adalah toilet training karena anak-anak akan belajar untuk mengendalikan bagian tubuhnya yang nantinya akan mengarah kepada perasaan memiliki kendali serta belajar kemandirian. Pada usia ini, anak-anak akan banyak bersikap `sok tahu’ untuk memilih pakaian atau mainannya sendiri. Mungkin saja warna pakaian yang dipilihnya membuat orang tuanya sakit mata, namun itulah proses mereka untuk belajar mandiri.
      3. Usia pra sekolah (3-6 tahun) : initiatives vs guilt
      Dalam tahap pra sekolah, anak-anak mulai belajar berinteraksi secara sosial melalui permainan yang terarah. Mereka belajar untuk bermain dengan aturan tertentu. Anak-anak yang berhasil melewati tahapan ini akan memiliki rasa percaya diri karena merasa mampu dan bisa memimpin teman-temannya. Mereka yang tidak berhasil menguasai ketrampilan ini akan cepat merasa bersalah, meragukan kemampuan diri serta tidak memiliki inisiatif.
      4. Usia sekolah (7-12 tahun) : industry vs inferiority
      Pada tahap ini anak-anak mengembangkan rasa bangga akan pencapaian dan kemampuan mereka. Anak-anak yang mendapatkan dukungan dan pengakuan dari orang tua, guru serta teman sepermainannya akan mengembangkan perasaan ‘saya bisa’ dan yakin akan kemampuan mereka. Mereka yang tidak mendapatkan dukungan tersebut akan meragukan kemampuan diri mereka untuk berhasil di masa mendatang. Kasus bullying umumnya mulai terjadi pada usia ini.
      5. Remaja (12-19 tahun) : identity vs role confusion
      Dalam tahap ini si remaja mulai mengeksplorasi kemandirian mereka serta mengembangkan konsep diri. Mereka yang mendapatkan dorongan positif akan memiliki rasa bangga akan dirinya serta kemandirian dan kendali yang kuat.
      6. Dewasa muda (19-35 tahun) : intimacy vs isolation
      Pada tahap dewasa muda ini, sangatlah penting bagi seseorang untuk mulai mengembangkan hubungan dekat dengan orang lain. Perlu diingat bahwa setiap tahapan mengacu pada ketrampilan yang sudah dipelajari pada tahapan sebelumnya. Studi menunjukkan bahwa mereka yang memiliki konsep diri yang rendah cenderung mempunyai hubungan yang berkomitmen rendah dan lebih mudah mengalami depresi.
      7. Dewasa (35-60 tahun) : generativity vs stagnation
      Dalam tahap ini, seseorang harus berkembang untuk membentuk dan memandu generasi yang baru, baik dari segi pekerjaan atau karir maupun keluarga. Memiliki anak tidak berarti seseorang sudah berhasil melewati tahap ini.
      8. Usia Lanjut (60 tahun ke atas) : integrity vs despair
      Tahapan terakhir dalam hidup ini umumnya berfokus pada refleksi pada kehidupan yang sudah dijalani. Mereka yang tidak berhasil melewati tahapan ini akan menyesali banyak hal dan merasa hidupnya sia-sia. Berhasil melewati tahapan ini berarti memiliki kepuasan akan hidup serta kebijakan bahkan sewaktu menghadapi kematian.

Saat ini para orang tua berada pada tahap dewasa dimana kita memiliki tugas untuk membentuk dan memandu generasi baru. Dengan memiliki anak, kita sudah membentuk generasi baru, namun bagaimana kita memandu mereka? Bagi yang tidak memiliki anak, aktif di kegiatan sosial organisasi dan berbagai kegiatan lain merupakan sesuatu yang bisa dilakukan.

Kembali ke pertanyaan awal, 30-40 tahun dari sekarang, anda ingin anak anda seperti apa nantinya? Anda ingin ia menjadi apa?

Dirangkum dari berbagai sumber

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: