Membentuk Anak Mandiri Untuk ANAK USIA PRASEKOLAH

Menurut Dra. M. Louise M.M.Psi dari RSAB Harapan Kita Jakarta, anak usia prasekolah sudah memiliki kemampuan motorik kasar dan halus yang jauh lebih baik serta dapat menganalisa lingkungan dan menempatkan diri pada lingkungannya.

1. Berpakaian dan memakai sepatu sendiri.

Anak usia 3 tahun, diharapkan sudah mampu memakai dan melepas bajunya sendiri. Memasuki usia 4 tahun, diharapkan ia menjadi terampil mengancingkan baju dan membedakan mana bagian depan dan belakang. Untuk sepatu, diharapkan ia sudah bisa memakai sendiri sepatu berperekat, dan mulai mempelajari cara mengikat tali sepatu.

2. Makan sendiri.
Memasuki usia 4 – 5 tahun, anak diharapkan sudah mampu makan sendiri dan menggunakan peralatan makan yang benar. Sebaiknya ia juga sudah memahami disiplin waktu makan dan etiket, misalnya harus duduk di kursi dan tidak sambil jalan-jalan.

3. Aktivitas di toilet.

Yang diharapkan dari usia ini adalah anak dapat melakukan BAK dan BAB sendiri, serta membersihkan alat kelamin seusai buang air dan mengenakan kembali celananya. Pada awalnya orang tua masih harus memantau untuk melihat apakah ia telah membersihkan alat kelaminnya dengan benar.

Stimulus :

  • Berikan anak banyak kesempatan untuk berlatih dan mencoba sendiri, dengan cara dan suasana yang menyenangkan. Misalnya memakai baju sembari bermain dan menyanyi dengan syair sederhana, dan makan di meja makan bersama anggota keluarga.
  • Untuk mengajarkan anak aktivitas di toilet, gunakan shower, selang, atau gayung kecil. Ajarkan anak perempuan untuk membasuh dari arah depan ke belakang, jelaskan alasannya (agar kotoran yang mungkin tertinggal di anus tidak terbawa ke depan). Ajarkan anak mengeringkan dengan tisu atau handuk khusus, dan bimbinglah ia mengenakan celana dan merapikan dirinya.
  • 4. Tidur sendiri (mulai usia 4 – 5 tahun)
    Stimulus :
    Bila memungkinkan, pisahkan tempat tidur anak sejak usia 2 tahun walaupun ia masih sekamar dengan orang tua. Mulai usia 4 – 5 tahun, ajari anak untuk tidur sendiri di kamarnya.

  • Temani sebelum anak tidur dengan melakukan permainan ringan, saling bercerita atau membacakan dongeng.
  • Lakukanlah ritual sebelum tidur seperti membersihkan diri, ganti pakaian dan berdoa.
  • Minta ia mulai merapikan tempat tidurnya.
  • Biarkan ia “mengatur” sendiri kamarnya, misalnya dimana ia meletakkan mainan kesayangannya atau memilih seprai bergambar karakter favoritnya.
  • 5. Bermain dengan teman tanpa harus diawasi orang dewasa (mulai usia 4 – 5 tahun)
    Diharapkan anak telah mengetahui etiket bermain, misalnya mengucapkan salam, saling bergantian, rela berbagi dan meminjamkan mainan, serta memahami aturan permainan sederhana.

    Stimulus : sejak usia 1 tahun, biarkan anak bermain dengan teman di sekitar lingkungan rumah. Ajarkan meminta izin bila ingin meminjam sesuatu dan mengucapkan terima kasih. Sejak usia 2 tahun, bimbing anak untuk rela berbagi dan bergantian menggunakan mainan.

    6. Mengikuti lomba sederhana (mulai usia 4 – 5 tahun)
    Stimulus :
    sejak usia 3 tahun, anak bisa diikutkan pada lomba sederhana seperti balap lari, makan kerupuk, mewarnai, dan sejenisnya. Tingkatkan pada lomba yang membutuhkan pemahaman aturan permainan. Berikan penghargaan bila anak sudah mulai memiliki keinginan untuk berlomba, agar meningkatkan rasa percaya dirinya.

    ANAK USIA 6 – 8 TAHUN

    Menurut Dra. Michiko Mamesah, M.Psi dari Universitas Negeri Jakarta, anak usia 6 – 8 tahun memiliki kemampuan kognitif yang kian berkembang. Kemampuan mencontoh, berinteraksi dan memahami instruksinya akan sangat mendukung perkembangan kemandiriannya.

    1. Berpakaian dan memakai sepatu sendiri.
    Selain kemampuan dasar berpakaian yang sudah dikuasai di usia sebelumnya, anak usia 6 tahun diharapkan telah mampu memakai celananya sendiri. Ia juga diharapkan dapat mengikat tali sepatunya sendiri. Di usia 7 tahun, anak perlu belajar berpakaian dengan baik : memasukkan baju ke celana, memakai ikat pinggang, merapikan kerah. Di usia 8 tahun, anak diharapkan bisa menyisir rambut dan mematut-matut asesoris dengan serasi

    2. Mengambil makanan dan makan sendiri.

    Anak usia 6 – 7 tahun diharapkan tidak sekedar menyendok makanan yang tersedia di piring, tetapi juga sudah bisa mengambil nasi dan lauk yang tersaji di meja. Ia juga sudah bisa menentukan seberapa banyak makanan yang bisa dihabiskannya dan jenis lauk yang diinginkannya. Anak usia 8 tahun diharapkan sudah berinisiatif makan sendiri ketika waktu makan tiba, tanpa disuruh.

    3. Mandi sendiri.
    Sejak usia 6 tahun, biasakan anak sudah mandi sendiri, dari menyalakan shower, membuka keran, mengguyur tubuh, bersabun / bersampo dan membilas tubuh serta rambutnya. Di usia 7 tahun, seharusnya masa pendampingan orang tua di kamar mandi sudah berakhir. Juga diharapkan telah tumbuh kesadaran sendiri sehingga anak mandi tanpa harus disuruh lagi. Perhatian : pastikan kamar mandi tidak licin dan pemanas air dalam posisi aman.

    4. Menyiapkan dan membereskan peralatan sendiri.
    Anak usia 6–7 tahun juga diharapkan telah dapat membereskan buku dan peralatan yang harus dibawa ke sekolah, meletakkan sepatu di rak, membereskan mainan, harus sudah bisa dilakukan anak tanpa pendampingan orang tua. Bantuan baru diberikan bila anak terlihat tidak mampu mengatasi masalahnya.

    5. Merapikan tempat tidur sendiri
    Setidaknya anak perlu tahu bahwa bantal, guling, selimut harus ditata rapi dan diletakkan kembali ke tempat semula.

    6. Berinteraksi sosial
    Anak sudah bisa memilih komunitas teman bermainnya, menentukan dengan siapa ia mau atau tidak mau berteman. Ini merupakan landasan untuk menentukan minatnya. Anak sudah bisa bermain sendiri ke rumah teman tanpa pengawasan ketat.

    Stimulus :

  • Untuk mengajarkan anak mengurus dirinya sendiri, contohkan bagaimana cara melakukannya, minta anak untuk mengikutinya, dampingi sampai ia bisa. Lakukan secara konsisten agar terbentuk menjadi kebiasaan.
  • Untuk setiap aktivitas, mulai dari yang sederhana, tingkatkan dengan yang lebih sulit agar ketrampilan meningkat.
  • Dukung anak saat ia tengah berusaha mempelajari hal yang cukup sulit (misalnya mengikat tali sepatu sendiri), supaya ia mau mencoba dan mencoba lagi serta tidak berputus asa. Berikan kesempatan mencoba sebanyak-banyaknya.
  • Libatkan anak, misalnya menanyakan menu makanan yang diinginkan hari ini.
  • Arahkan bila anak terlihat terlalu memilih-milih teman, berikan gambaran bagaimana menentukan teman bergaul tanpa mendikte.
  • ANAK USIA 8 – 12 TAHUN

    Menurut Dewi Romadhona, Psi dari Avanti Treatment Centre Jakarta, anak usia 6 – 8 tahun memiliki tahap berpikir konkret dimana ia mulai memahami aturan dan belajar memecahkan permasalahan dengan menggunakan logika.

    1. Mengambil keputusan sendiri

    Tak lagi terkait secara fisik seperti mengurus diri sendiri, kemandirian pada tahap usia ini ditandai dengan kemampuan psikologis. Anak diharapkan dapat mengambil keputusan sendiri, bertanggung jawab atas keputusan tersebut dan menanggung konsekuensinya.

    2. Menguasai hampir seluruh aktivitas fisik
    Kemampuan motorik yang baik memungkinkan anak melakukan bermacam aktivitas fisik. Ia juga sudah mampu mengatur aktivitas yang sesuai dengan minat dan bakatnya.

    3. Bersosialisasi untuk unjuk peran
    Sosialisasi berorientasi pada kepuasan untuk mencapai hasil yang baik, sebagai wujud dari keingingan menunjukkan peran.

    4. Sadar akan tugas
    Anak mengerjakan tugas sekolah tanpa perlu disuruh atau dibantu. Ia juga bisa dibebani tanggung jawab sederhana di rumah, sebagai bagian dari rutinitasnya.

    5. Mematuhi peraturan
    Anak dapat mematuhi peraturan dan menerapkan disiplin, yang muncul dari keinginan mengatur diri sendiri agar sesuai dengan keinginan lingkungan.

    6. Bisa mengendalikan diri
    Agar anak dapat mengendalikan diri, faktor pendukungnya adalah tingkat IQ yang memadai, kemampuan berbicara, berimajinasi, memiliki rasa ingin tahu serta kemampuan berpikir secara logis.

    Stimulus :

  • Beri kesempatan pada anak untuk mencoba memecahkan masalah dan membuat keputusan. Dorong anak untuk menemukan alternatif pemecahan masalah.
  • Bebaskan anak memilih, orang tua menempatkan diri sebagai pembimbing : memberi arahan bila ada hal-hal yang kurang tepat. Tahan diri Anda untuk selalu turut campur dalam setiap urusan anak.
  • Hargai usahanya. Jangan pernah mematahkan semangatnya dengan mengatakan “mustahil” pada apa yang sedang diusahakan anak. Bila anak merasa putus asa, bangkitkan ia dan dorong anak untuk meneruskan usahanya.
  • Buat pembagian tugas dan berikan tanggung jawab, misalnya membagi tugas rumah tangga antara anggota keluarga (adik membereskan meja makan, kakak mencuci piring). Libatkan anak dalam keputusan keluarga, misalnya rencana berlibur
  • Jangan terlalu menuntut anak untuk bisa melakukan segala sesuatu dengan standar tertentu
  • Bantu anak untuk membuat jadwal kegiatannya sendiri, yang mencakup tugas dan aktivitas harian seperti waktu belajar, mengikuti les, bermain, menonton TV dan lain sebagainya. Ingatkan ia untuk konsisten pada jadwalnya.
  • Tegakan diri untuk memberikan tantangan kepada anak. Jangan bersikap sok pahlawan, biarkan anak sesekali merasa kecewa dan mengalami kegagalan.
  • Dirangkum dari berbagai sumber.

    Satu Balasan ke Membentuk Anak Mandiri Untuk ANAK USIA PRASEKOLAH

    1. Hi, interesting post. I have been wondering about this topic,so thanks for posting. I’ll certainly be coming back to your blog.

    Tinggalkan Balasan

    Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

    Logo WordPress.com

    You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

    Gambar Twitter

    You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

    Foto Facebook

    You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

    Foto Google+

    You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

    Connecting to %s

    %d blogger menyukai ini: