MAMA, JALAN YUK!

Di usiaku yang 11 bulan ini aku mulai ingin berjalan. Meski masih sempoyongan kayak dewa mabuk, maklum saja ya, Ma!

“Aku mau bercerita tentang tahapan belajar berjalan pada bayi seperti aku. Ternyata perkembangan kemampuan berjalan diawali semenjak aku merangkak lo. Hmmm jadi sekitar usia 8 bulanan. Nah, waktu usia 9 bulan—meski belum menguasai keseimbangan dengan baik—aku sudah mulai bisa berdiri tegak jika kedua tanganku berpegangan pada sesuatu atau ditetah. Mama ingat enggak ketika aku 10 bulan dan mulai mengangkat tubuhku sendiri? Saat itu aku berpegangan pada meja di ruang tamu lalu tiba-tiba tung! berhasil mengangkat badanku yang montok dan berdiri. Wiiih senangnya! Sekarang di usia 11 bulan ini aku mulai rambatan. Lucu ya Ma, soalnya aku enggak berjalan ke depan seperti layaknya orang dewasa, tapi mengangkat kaki pelan-pelan (mirip banget langkah robot) lalu bergerak menyamping karena kalau enggak pegangan pada meja, kursi, almari atau yang lainnya, aku akan jatuh terduduk. Hi…hi…hi… dilihatnya kocak deh.

Makanya, Ma, aku senang banget kalau ditaruh di dalam boks. Soalnya bisa sekalian latihan rambatan dengan memegang pinggirannya. Ma, aku juga jangan keseringan dipakaikan pospak ya karena ternyata dapat memengaruhi keseimbangan ketika aku belajar berjalan. Pospak yang tebal dan mengganjal di sekitar sendi tulang paha dapat membuatku membuka kaki lebar-lebar saat berjalan. Kalau terus-terusan seperti itu, jangan-jangan nanti sampai gede cara berjalanku seperti itu. Ih, enggak mau deh aku.

O, iya aku juga enggak perlu dibeliin babywalker soalnya alat itu enggak dianjurkan ahli. Jadi biarkan kemampuan berjalanku berkembang secara alami. Katanya nih Ma, bila bayi baru mencapai tahapan merangkak tapi sudah didudukkan di babywalker supaya cepat berjalan, malah bisa menimbulkan kelainan pada kaki. Sebab saat menggunakan babywalker kan yang bergerak untuk mengayuh hanya tungkai kaki bawah dan ujung telapak kaki. Kondisi tersebut ternyata dapat menyebabkan bayi memiliki kebiasaan berjalan jinjit. Tak hanya itu, bayi juga berisiko mengalami bentuk telapak kaki ke dalam (inversi) atau keluar (eversi) karena otot-otot pada telapak kakinya belum siap namun sudah “dipaksa’ untuk menstabilkan posisinya.”

SEPATUKU MANA?

“Aku sudah pantas pakai sepatu bersol karet, lo, Ma. Katanya, untuk bayi yang tengah belajar merangkak disarankan memakai sepatu yang bagian punggung kakinya sedikit tebal. Maksudnya, supaya sewaktu merangkak bagian punggung kaki bayi terlindungi. Sedangkan untuk bayi yang sedang belajar merambat seperti aku, sepatu ini harus punya sol yang kokoh dan bagian dalamnya nyaman. Maksudnya agar meskipun telapak kakiku bergeser ke kiri dan ke kanan, kakiku tetap memiliki penahan yang cukup kuat.

Nah, bagi bayi-bayi yang sudah mulai melangkah dengan lancar, sepatu yang baik adalah yang bagian tumitnya kaku. Tujuannya agar membantu tumit tetap terpegang kuat ketika kaki-kaki mungil mereka melangkah. Ujung sepatu juga sebaiknya yang sedikit menyerong (dengan sudut kurang lebih 30 derajat). Katanya sih, fungsinya agar kaki terasa ringan saat melangkah.

Pemakaian sepatu yang tidak tepat dapat menimbulkan kelainan pada kaki lo, Ma. Salah satunya kelainan kaki yang kedua lututnya bersinggungan di tengah seperti huruf X. Ini sangat mungkin terjadi kalau alas kaki terlalu lunak sehingga terjadi putaran ke arah dalam pada sumbu tungkai atas dan putaran ke arah luar pada tungkai bawah. Sepatu yang lunak juga dapat menimbulkan kelainan bentuk kaki menyerupai huruf O (kedua tumit berdekatan namun kedua lutut saling menjauh). Sedangkan bila bagian tumit pada sepatu tidak memiliki penyangga yang kokoh, maka telapak kaki dapat membuka ke arah samping atau ke dalam.”

GANDENG SAJA

“Kelainan kaki anak ada kaitannya dengan pemaksaan stimulasi sewaktu bayi, lo. Mama tentu enggak mau ini terjadi, makanya jangan memberi stimulasi berjalan terlalu cepat. Contohnya gini, ada bayi yang baru mulai rambatan tapi sudah ditatih. Hal ini justru enggak disarankan karena panjang langkah bayi tidak sesuai dengan panjang langkah si penatih. Alhasil bayi terpaksa mengikuti langkah kaki si orang dewasa. Kondisi ini dapat menimbulkan kelainan bentuk kaki, seperti menyerupai huruf X atau O.

Hal yang sama juga terjadi bila si bayi ditatih dengan mengaitkan selendang di bagian pundak atau dada melalui ketiak kemudian dipegangi dari belakang. Ini juga dapat memengaruhi keseimbangan bayi ketika melangkah kakinya sehingga berisiko mengakibatkan kelainan pada kaki bayi.

Gaya menatih yang disarankan ternyata dengan memegangi satu tangan bayi dan berjalan beriringan. Jadi kayak orang menggandeng gitu Ma. Dengan begitu aku dapat belajar menjaga keseimbangan tubuhku. Dipegangi dua tangan bukannya tidak boleh, tapi biasanya karena langkah Mama lebih besar daripada langkahku, aku jadi agak terseret-seret. Namanya juga aku sedang belajar, jadi Mama yang harus menyesuaikan dengan langkah kakiku, oke? Mama pun jadi tak harus berjalan mengegang.

Nah, sekarang Mama siap melatihku berjalan?”

YANG INI TAK PERLU DIKHAWATIRKAN

1. Bila bayi terlihat jinjit ketika mulai belajar berjalan. Ini adalah bagian dari proses belajar berjalan. Ia berusaha menyesuaikan telapak kaki dengan bidang yang ditapaki. Namun, bila sampai dengan 2 tahun masih berjalan jinjit, segera konsulasikan hal ini pada dokter untuk mengantisipasi kelainan yang mungkin saja terjadi.

2. Bila anak belum mampu berjalan dengan tegak sampai usia 18 bulan, bisa jadi terjadi keterlambatan. Tentu akan lebih bijak, bila hal ini segera dikonsultasikan pada dokter. Dengan demikian dokter dapat melakukan pemeriksaan fisik serta refleks–refleks yang harus ada sesuai dengan usianya.

3. Ketika memasuki usia 2 tahun, anak dengan kondisi telapak kaki datar belum dapat dikategorikan flat foot. Sebab, anak mulai mampu menggunakan telapak kakinya setelah berusia 13 bulan. Nah, semenjak saat itulah ia mulai membentuk telapak

Utami Sri Rahayu. nakita

Narasumber:

dr. Meidy H. Triangto, SpRM

dari Kid’s Foot + Rehabilitation Center, RS Mitra Keluarga Kelapa Gading, Jakarta

Satu Balasan ke MAMA, JALAN YUK!

  1. Hi, interesting post. I have been thinking about this issue,so thanks for blogging. I’ll likely be coming back to your site. Keep up the good work

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: