Berjalan pada bayi dan stimulusnya

Awalnya berjalan ke depan, lalu si batita menemukan sendiri kemampuan berjalan mundur dan naik/turun tangga.

Meski tidak sama, secara umum, anak usia 1 tahun harusnya mampu berjalan beberapa saat tanpa bantuan. Sebagai panduan untuk orangtua, berikut tahapan perkembangan kemampuan berjalan anak yang diberikan Henny E. Wirawan, M.Hum, Psi., dari Fakultas Psikologi Universitas Tarumanagara, Jakarta.

Usia dan Kemampuan yang harus dikuasai:

12-18 bulan

  • Berdiri tanpa bantuan.
  • Berjalan dengan merambat ke perabotan di rumah.
  • Berjalan 2 atau 3 langkah tanpa bantuan.
  • Berjalan 10-20 menit tanpa bantuan.

18-24 bulan

  • Berjalan tanpa kesulitan.
  • Menarik mainan sambil berjalan.
  • Membawa mainan besar sambil berjalan.
  • Naik/turun bangku tanpa bantuan.
  • Menemukan cara sendiri untuk berjalan mundur.
  • Bisa naik/turun tangga dengan bantuan.

24-36 bulan

  • Umumnya mampu memanjat dengan baik, berjalan naik/turun tangga dengan menggunakan satu kaki per anak tangga.
  • Berjalan jinjit.

DELAY DEVELOPMENT

Bicara soal perkembangan fisik, sesungguhnya tak pernah ada patokan usia pasti. Tiap anak punya kematangan perkembangan yang berbeda. Ada anak yang otot dan tulang kakinya cukup kuat untuk melakukan satu aktivitas di usia 2 tahun, tapi anak lain barangkali mampu melakukannya lebih awal di usia 1;6 tahun, dan ada juga yang baru bisa melakukannya selewat 2 tahun. Begitu juga dengan kemampuan berjalan mundur di usia 22 bulan, sementara anak tetangga sudah bisa melakukannya di usia 18 bulan, orangtua tak perlu terlalu cemas. Beda satu-dua bulan dari patokan rentang usia bukan masalah. Cukup waspada saja, tetapi tak perlu dibayang-bayangi kekhawatiran.

Yang dimaksud dengan delay development atau keterlambatan adalah jika beda kemampuan berjalannya terpaut satu tahun atau lebih dari patokan di atas. Misal, sampai usia 24 bulan anak belum bisa berjalan 2-3 langkah tanpa bantuan, padahal kemampuan ini seharusnya dikuasai di usia 12 bulan. Bila ini yang terjadi, orangtua sebaiknya segera membawa anak ke dokter anak atau psikolog untuk diobservasi lebih juga mendapatkan penanganan yang tepat. Apakah dengan pemberian obat sebagai bentuk farmakoterapi untuk menstimulasi sel-sel otak, fisioterapi, latihan konsentrasi, dan sebagainya. Bentuk penanganannya sangat bergantung pada masalah yang dihadapi anak.

Masalah psikologis sering kali menjadi penyebab anak segan latihan berjalan. Anak yang terlalu dimanja, misalnya, sangat mungkin mengalami keterlambatan berjalan karena orangtua atau pengasuh selalu menyodorkan semua kebutuhan anak di depan mata. Si kecil tahu tanpa perlu beringsut sedikit pun, semua kemauannya bisa terpenuhi; jadi, kenapa harus repot-repot berusaha mengambilnya sendiri dengan berjalan?

Masalah psikologis lainnya adalah trauma. Bisa jadi, saat belajar berjalan anak pernah jatuh, terpeleset atau terbentur sesuatu dan merasa sakit. Tanpa disemangati lagi, bukan tak mungkin pengalaman itu membuat anak segan belajar berjalan lagi.

STIMULASI TEPAT

Stimulasi yang tepat akan membuat kemampuan berjalannya berkembang pesat. Inilah stimulasi yang disarankan:

* Berjalan

Izinkan anak untuk bereksplorasi ke segala penjuru rumah. Contoh, saat anak mulai merangkak dan merambat, kurangi penggunaan kata “jangan” agar tak menghalangi geraknya.

Usahakan melepas anak dari gendongan sesering mungkin, sehingga otot kakinya lebih lincah bergerak.

Ajak anak bermain untuk menstimulasi motoriknya, semisal mengambil bola yang dilempar, mendengarkan lagu sambil melompat-lompat, dan sebagainya.

Ajak anak berjalan-jalan sore atau pagi. Bila kemampuannya masih sangat kurang, orangtua bisa melakukannya sambil menatih anak.

Sediakan tongkat berputar yang bertumpu pada satu poros. Dengan berpegangan pada bilah yang melintang, secara tak langsung anak berlatih berjalan saat mendorong bambu tersebut. Atau bisa juga dengan menyediakan hang bar seperti yang ada di pusat-pusat terapi. Intinya ada satu benda kokoh yang digunakan untuk berpegangan saat keseimbangannya masih labil.

* Berjalan mundur

  • Menarik mainan dari tempatnya membuat anak mengambil langkah mundur supaya dapat mengambil mainan tersebut.
  • Berikan pengawasan ekstra bila anak mulai berjalan mundur. Selain kemampuannya yang masih terbatas, konsentrasi anak pun belum maksimal, sehingga besar kemungkinan membentur/menabrak sesuatu saat berjalan mundur.

* Naik/turun tangga

  • Pegang tangan satunya saat naik/turun tangga dan biarkan tangan satunya memegangi pegangan tangga.
  • Jika di rumah tidak ada tangga, manfaatkan tangga atau undakan di luar rumah, seperi di taman bermain, di hotel, di rumah sakit, dan lainnya.

* Berjalan jinjit

  • Tunjukkan pada anak bagaimana cara berjinjit. Lebih mengasyikkan kalau sambil mendengarkan lagu anak-anak yang riang.

LINGKUNGAN AMAN

Di saat anak sedang giat-giatnya belajar berjalan, beberapa rambu berikut ini harus diperhatikan orangtua:

  • Jauhkan benda atau zat yang beracun dari jangkauan anak.
  • Letakkan benda tajam, benda berat, stop kontak atau benda elektronik, di tempat yang tertutup.
  • Singkirkan benda pecah belah/pajangan kaca dari atas meja/jangkauan anak.
  • Jangan gunakan taplak yang menjuntai ke lantai, karena bisa membuatnya tersandung. Apalagi saat berjalannya belum mantap.
  • Jika anak sudah bermain-main di luar rumah, awasi aktivitasnya, sehingga orangtua tahu persis bahwa anak tidak bermain ke jalan raya atau ke tempat berbahaya lainnya.
  • Walau sudah bisa berjalan, tetap awasi dan kalau perlu sesekali gandeng tangannya.
  • Jangan lepaskan perhatian saat anak mulai berlari dan berjalan mundur.
  • Pasang pegangan tangan di tangga yang terjangkau oleh tangan anak, supaya aman saat anak belajar naik/turun tangga.

Marfuah Panji Astuti. nakita

Satu Balasan ke Berjalan pada bayi dan stimulusnya

  1. ragil mengatakan:

    saya mempunyai keponakan yang berumur sudah 14 bulan
    anehnya dia belum mau belajar berjalan maupun berdiri
    merangkak saja ga mau, dia kesana kemari dengan cara ngesot hehehe.. menurut anda apakah itu ada kelainan atau memang umur segitu masih wajar ketika ketika melihat konteks berjalan pada balita? mohon jawabanya atau kirim email ke ( satriaflamboyan[at]gmail[dot]com

    Alhamdulillah saya telah menulis berkaitan dengan pertanyaan saudara di sini. Terima kasih atas kunjungannya.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: