PENTINGNYA MENCERMATI PERKEMBANGAN FISIK BAYI

Di usia awal, pertumbuhan fisik anak perlu dimonitor. Tak baiknya pertumbuhan pertanda ada sesuatu pada diri si anak.

Selama ini gencar dibicarakan ataupun diulas bagaimana menstimulasi perkembangan anak. Baik dari segi perkembangan motorik kasar, motorik halus, komunikasi pasif dan aktif, kecerdasan, menolong diri sendiri, dan tingkah laku sosial anak. Benarkah hanya itu melulu yang perlu dimonitor dan distimulus dari seorang bayi? Jangan salah, lo, Bu-Pak, ternyata kita pun harus memonitor pula pertumbuhan fisiknya. Bukankah sering dikatakan, perhatikan tumbuh kembang anak. Jadi, tak melulu perkembangannya saja, kan, tapi juga pertumbuhannya. Mengapa demikian?

Menurut dr. Eva J.Soelaeman, SpA, dari RS Anak dan Bersalin Harapan Kita, Jakarta, bila ada gangguan pertumbuhan maka itu bisa merupakan pertanda ada kelainan atau penyakit tertentu pada anak. Jadi, Bu-Pak, kalau anak tak kunjung bertambah BB dan TB-nya, misal, walaupun ASI dan makanannya bagus, cari tahu latar belakang penyebabnya. Boleh jadi ia menderita penyakit metabolik, seperti diabetes/kencing manis atau dia tak bisa mencerna lemak hingga tiap kali makan lemak akan keluar lagi.

Nah, berikut ini pertumbuhan fisik yang harus diperhatikan pada bayi, yakni:

* BB (Berat Badan)

Ketika lahir, berat normal bayi berkisar antara 2,5 kg-4 kg. Berat lahir ini dipengaruhi kesehatan ibu dan janin. Waktu usia kehamilan 6 bulan, sebetulnya tubuh bayi sudah lengkap secara keseluruhan, tapi beratnya masih sekitar 1 kg. Antara usia kehamilan 6-9 bulan bobotnya bertambah bertambah 1-3 kg, hingga begitu lahir beratnya sudah bertambah sebanyak pertambahan pada tiga bulan terakhir kehamilan itu.

Jadi, 3 bulan terakhir masa kehamilan tersebut menentukan berat lahir bayi. Maka itu, saran Eva, pada 3 bulan terakhir kehamilan, ibu harus memperhatikan konsumsi makanannya. Apalagi pada 3 bulan terakhir tersebut, nafsu makan ibu juga cenderung meningkat. Sebab, jika ibu mengkonsumsi makanan yang berlebihan, bayi yang dilahirkannya pun akan besar. Tentunya ini akan menyulitkan ibu untuk persalinan normal. “Sebaiknya, bila usia kehamilan sudah 6 bulan ke atas, ibu mengatur makanannya sesuai dengan gizi seimbang termasuk banyak makan sayur dan buah-buahan segar.”

Eva juga mewanti-wanti agar kaum ibu jangan salah kaprah menafsirkan bahwa karena hamil ia harus makan untuk dua orang alias dua porsi. Hal ini tak benar. “Kebutuhan wanita dewasa sehari-harinya itu, kan, 2.000 kalori. Jadi, bukan berarti saat hamil harus digandakan. Yang benar, ibu hamil perlu tambahan kalori sebanyak 300 kalori. Jadi, yang dibutuhkan sebetulnya hanya 2.300 kalori.”

Berat lahir akan mempengaruhi BB anak selanjutnya. Jadi, kalau bayinya kecil, nantinya pun akan kecil, dan sebaliknya. Umumnya, kenaikan BB di bulan pertama kira-kira 1-1,5 kg. Bulan kedua kenaikannya antara 3/4-1 kg. Bulan ketiga naik antara 1/2-3/4 kg. Makin bertambah usianya, kenaikan BB tak terlalu besar. “Biasanya berat bayi setelah usia 4-5 bulan akan jadi dua kali berat lahir. Usia setahun jadi 3 kali berat lahir. Jadi, kalau berat bayi lahir 4 kg, usia 4-5 bulan mencapai 8 kg, dan usia setahun jadi 12 kg.” Walaupun perkiraan itu bukan harga mati, karena tak semua bayi dengan berat lahir 4 kg akan berukuran 12 kg saat usia setahun. “Tapi masih disebut normal bila plus-minusnya 2 kg. Misal, beratnya hanya 10 kg,” jelas Eva. Untuk kenaikan berat badan ini, tambahnya, ada kurva normal yang menentukan berat anak apakah termasuk kurang, normal atau berlebih.

Faktor yang mempengaruhi BB anak antara lain asupan makanan yang baik, terutama dari ASI selama 6 bulan pertama. Bukan itu saja. Faktor penyakit bisa menyebabkan pertumbuhan BB anak tak maksimal. Penyakit yang bisa dijumpai pada usia bayi adalah penyakit jantung bawaan. “Jantung itu penting sekali untuk mengalirkan darah yang membawa zat-zat makanan. Kalau jantungnya bocor, darah bersih dan kotor akan bercampur, dengan demikian tubuh pun akan kekurangan oksigen yang menyebabkan gangguan pertumbuhan.” Penyakit jantung bawaan pun berpengaruh pada daya isap bayi yang tak baik, dengan demikian asupan makannya pun berkurang. Selain itu, penyakit diare juga dapat mengganggu pertumbuhan. Kalau dalam seharinya bisa 15 kali BAB, tentu makanan yang masuk hanya sekadar lewat, tak ada yang diserap tubuh. Demikian pula penyakit batuk-batuk atau kelainan paru-paru bawaan juga bisa menyebabkan pertumbuhan anak tak maksimal. Bukankah penyakit ini akan menimbulkan sesak nafas hingga menyebabkan daya isap bayi juga tak kuat? Berarti pemasukan makannya pun kurang. Hal ini akan berpengaruh pada metabolismenya, membuat BB anak pun jadi tak optimal atau kurus.

* TB (Tinggi Badan)

Menurut Eva, pertumbuhan TB bayi juga dipengaruhi asupan makanan. Bila asupannya kurang, anak pun akan jadi kurus dan pendek. Selain juga akan menganggu perkembangan otaknya. Berbeda dengan orang dewasa, yang bila asupan makanannya kurang, mungkin hanya mempengaruhi BB-nya, sementara tingginya tidak jadi berkurang atau pendek, karena pertumbuhannya sudah selesai.

Umumnya bayi baru lahir memiliki tinggi antara 45 cm-52 cm. Pertumbuhan TB anak cepat sekali. Usia setahun, misal, tingginya akan 1 1/2 kali panjang lahir, dan usia 4 tahun 2 kali panjang lahir. Jadi, semisal panjang lahirnya 50 cm, saat usia setahun tingginya 75 cm dan usia 4 tahun 100 cm. Jika makanannya kurang, TB-nya pun tak mencapai 75 cm di usia setahun. Selain faktor makanan, TB juga dipengaruhi faktor genetik. Jadi, kalau TB-nya kurang, perlu dilihat pula bagaimana genetiknya atau tinggi badan orang tuanya. Apakah ayah atau ibunya tinggi atau pendek.

Ketika badan meninggi, tulang-tulang ikut bertambah panjang, terutama tulang-tulang panjang, seperti tulang tangan atas-bawah dan tungkai atas-bawah. Dengan bertambah usia, tulang yang masih rawan atau yang berada di ujung-ujung tulang panjang itulah yang akan terus bertumbuh. Faktor yang berperan pada percepatan pertumbuhan tulang ini adalah makanan yang mengandung kalsium. Jika kalsiumnya cukup, tentu pertumbuhan tulangnya juga bagus, kecuali anak-anak dengan kelainan bawaan, seperti penyakit ricket (rachitis) atau kurang vitamin D, hingga tulang-tulangnya akan tetap pendek.

* Lingkar Kepala

Lingkar kepala berkaitan dengan pertumbuhan otak. Pada bayi baru lahir, ukuran kepalanya umumnya kecil karenasutura-sutura-nya (sambungan tulang kepalanya) belum menyatu atau belum terikat. Nah, dengan bertambah usia, tulang-tulang rawan yang masih belum terikat itu akan meregang karena pertumbuhan otak, hingga ukuran lingkar kepala bayi pun bertambah besar. Sampai usia 5 tahun, tulang-tulang rawan itu akan jadi tulang tetap. Jika tulang kepala tak berkembang, otak yang berada di dalamnya tak punya ruang untuk berkembang. Akibatnya, otak akan terjepit dan membuat ia mengalami kejang-kejang. Kepala yang kecil inilah yang dinamakan mikrosefalus.

“Umumnya lingkar kepala bayi baru lahir berkisar antara 35 cm dengan standar deviasi atau plus minus 2 cm. Bila ukurannya kecil, bisa diduga ada kelainan, hingga harus dilakukan pemeriksaan USG untuk mengetahui apakah pertumbuhan otaknya tak sempurna atau tak normal.” Tapi jangan pula terpaku pada anggapan kalau anak memiliki kepala yang lebih besar akan pintar dan kalau kepala lebih kecil akan bodoh. Sebab, yang harus dilihat bukan hanya lingkar kepala saja, tapi juga kedalaman korteks otak. Ada juga yang otaknya kecil, tapi sulkus-nya (lekukannya) dalam-dalam. Jadi, kalau korteks-nya diukur sebetulnya luas. “Otak manusia dibagi dua bagian. Bagian dalam dinamakan medula, dan bagian luarnya dinamakan korteks. Pada manusia, korteks lebih tebal dibanding medula. Nah, pada binatang justru sebaliknya. Karena itu memori manusia lebih besar dari binatang. Manusia bisa bicara, menulis, membaca, dan sebagainya.”

* Tonus Otot (Kerasnya Otot)

Asupan makanan yang masuk juga menentukan tonus otot bayi. Ada, kan, bayi yang otot-ototnya tampak lembek, tapi ada juga yang agak keras atau padat. Biasanya bayi yang diberi ASI, tonus ototnya lebih baik dibanding yang mendapat susu botol. Selain itu, kalau diukur otot lingkar lengan atasnya akan lebih besar. Dengan otot lingkar lengan atasnya lebih besar berarti ada ketebalan lemak di bawah kulitnya, kan? Pengukuran lingkar lengan atas ini dilakukan untuk melihat status gizi anak dan biasanya dikerjakan oleh ahli gizi. Memang, pengukuran lingkar lengan atas ini jarang sekali dilakukan untuk pemeriksaan, kecuali untuk tujuan penelitian.

Di usia bayi, kekerasan dan kekuatan ototnya tergantung pula pada latihan. Biasanya otot-otot yang terlatih adalah otot mulut karena dia mengisap ASI, selain juga otot leher, tangan, dan kaki. Kalau ototnya kuat atau keras, maka perkembangan motorik kasarnya pun akan lebih cepat.

Di usia 2 bulan biasanya bayi bisa mengangkat lehernya. Pada usia 3-4 bulan mengangkat tegak lehernya 90 derajat. Sekitar usia 4-5 bulan sudah bisa tengkurap dan membalik-balikan badannya. Kemudian, sekitar usia 6-7 bulan sudah duduk sendiri. Usia 8-9 bulan berdiri, dan 9-12 bulan berjalan.

Begitupun dengan perkembangan motorik halusnya. Bayi usia 0-12 bulan perkembangan motorik halusnya antara lain; dapat menjangkau, menggenggam dan memasukkan benda ke dalam mulut. Mengenai benda dengan menggunakan jempol dan satu jari. Memindahkan benda dari tangannya. Menjatuhkan benda mainan dan memunggutnya kembali.

Semua perkembangan di atas tergantung kekuatan ototnya. Bila ototnya lemah maka akan mengganggu perkembangan motorik kasar dan halusnya tersebut.

Sumber : nakita

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: