AGAR IA AMAN DAN NYAMAN DALAM GENDONGAN

Benarkah kaki bayi akan pengkar jika cara menggendongnya tak tepat? Bagaimana sebenarnya posisi menggendong yang aman dan nyaman?

Setiap bayi senang digendong, terutama oleh ayah atau ibunya. Lewat gendongan, ia tak cuma merasa sentuhan kasih orangtuanya, tapi juga memperoleh rasa aman dan nyaman. Hanya saja, tak setiap ayah-ibu “berani” menggendong si kecil. Apalagi jika ia baru lahir. Sampai-sampai, percaya atau tidak, sejumlah RS Bersalin memberikan kursus kilat tentang teknik menggendong bayi, khususnya untuk para ibu baru.

Kekhawatiran itu amat wajar mengingat tubuh bayi yang masih ringkih. Mereka juga takut, salah-salah menggendong, kaki bayi bisa berbentuk X atau O. Padahal, seperti dikatakan dr. Ucok Paruhum Siregar MDFICS dari bagian Orthopedi RSUPN Cipto Mangunkusumo, ketakutan-ketakutan itu tak beralasan. “Tak ada hubungannya antara posisi menggendong dengan bentuk kaki anak!” tegasnya. Soal kelainan bentuk kaki, katanya, sudah didapat sejak lahir. “Jadi, bukan karena salah gendong,” tukasnya. Bagaimana dengan kemungkinan cidera? Itu pun dibantah Ucok, “Sangat jarang terjadi.”

TIGA PERKEMBANGAN

Meski mungkin awalnya gugup, lanjutnya, seorang ibu baru secara naluriah akan tahu, bagaimana cara menghandle bayi. “Secara otomatis, si ibu pasti dengan lembut akan memegang belakang leher dan menyangga punggung bayinya dengan kedua tangannya,” kata dokter ahli orthopedi pada anak ini.

Sebetulnya, yang penting adalah sebelum menggendong si kecil dengan posisi tertentu, lihat dulu perkembangannya. Ada 3 perkembangan yang harus diamati, yakni perkembangan kepala, punggung, dan kekuatan kaki.

“Bayi baru lahir hingga kurang lebih usia 3 bulan, belum punya keseimbangan yang baik. Sebab, kekuatan leher, punggung, dan kakinya belum menyangga dengan baik tubuhnya,” jelas Ucok. Nah, untuk masa-masa ini, yang perlu diperhatikan saat menggendongnya adalah menyangga ketiga bagian tadi, terutama leher dan punggung. Setelah 3 bulan, umumnya leher bayi sudah kuat. Ini ditandai dengan tegaknya leher. Begitu pula bagian punggungnya, sudah kuat menyangga tubuhnya, sehingga bayi siap digendong dengan posisi yang lain.

Kendati demikian, Ucok mengingatkan, usia bayi tak selalu bisa jadi patokan. Soalnya,perkembangan bayi berbeda-beda. Tak setiap bayi usia 3 bulan, misalnya, sudah dapat menegakkan lehernya dengan baik. Jadi, tegas pengajar di FKUI ini, “Meski usianya sudah 3 bulan, jika lehernya belum dapat tegak dengan baik, ya, jangan dipaksakan digendong dengan posisi lain. Jika dipaksakan, ini yang bisa bikin cedera.”

Nah, sekarang ayah dan ibu tak perlu takut lagi untuk menggendong si kecil. Asal lehernya sudah tegak dan punggungnya sudah kuat menyangga tubuhnya, maka posisi gendong apa pun aman-aman saja. Baik gendong di depan, belakang, maupun samping.

Santi Hartono.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: