APAKAH BAYI ANDA BERPERILAKU SULIT ?

Jika si kecil kerap merepotkan, boleh jadi ia termasuk bayi sulit. Tapi kalau kita senantiasa penuh kasih dan sabar, dia akan berubah, kok.

“Kenapa, ya, anak saya, kok, belakangan jadi rewel. Lampu kamar terang sedikit, menangis. Telat digendong, menangis. Begitu juga kalau dengar suara ribut sedikit saja, dia bangun dan menangis. Kadang saya capek dan jadi jengkel,” keluh ibu seorang putri usia 1,5 bulan.

Memang, tak semua perilaku bayi menyenangkan orangtuanya. Kalau cuma sesekali rewel, sih, biasa. Tapi kalau sedikit-sedikit menangis, wah, pusing juga kita dibuatnya. Bukan tak mungkin kita dibuat senewen sepanjang waktu oleh perilaku yang ditunjukkan si kecil.

Tapi seburuk apa pun perasaan Anda menghadapi perilaku anak yang tak menyenangkan, tetaplah bersabar. Boleh jadi si kecil termasuk bayi sulit dan ia memerlukan penanganan yang berbeda ketimbang bayi lainnya. Sadarilah, perkembangan kepribadian tiap bayi memang berbeda-beda. Dan perbedaan ini, antara lain tergantung pada perbedaan emosional masing-masing.

“Sejak usia 8 minggu, bayi sudah menunjukkan perbedaan emosi satu sama lain,” ujar psikolog sekaligus staf pengajar di Fakultas Psikologi Unika Atma Jaya, Evi Sukmaningrum, S.Psi.. Ada bayi yang gampang senyum pada orang lain, tak pernah rewel, tapi ada juga yang gampang menangis, dan jarang terlihat gembira.

RESPON KURANG BAIK

Salah satu penyebab kondisi emosional adalah faktor biologis yang kemudian terpola dan akhirnya menetap. Misalnya, bayi biasanya menangis karena ia merasa tak nyaman secara fisik seperti sakit atau lapar. “Bisa saja karena ibunya tidak peka. Misalnya, si kecil lapar tapi tak segera diberi susu. Akibatnya, ia jengkel dan menangis berlama-lama,” terang Evi.

Ada juga bayi yang terus menangis, gampang jengkel tanpa sebab yang jelas. “Mungkin tidak sakit, tapi secara fisik ia merasa tak nyaman. Bisa saja, popoknya basah dan belum diganti,” lanjut Evi.

Selain perbedaan emosional, faktor temperamen juga berpengaruh terhadap perkembangan kepribadian bayi. Ini dilihat dari bagaimana ia bertingkah laku, bukan kenapa ia bertingkah laku. “Dengan mengetahui dimensi perkembangan temperamen ini, akan diketahui temperamen seperti apa yang dimiliki bayi,” kata Evi.

Menurut ahli, bayi sulit umumnya memiliki respon kurang baik terhadap sesuatu yang baru dan perubahan. Misalnya saja jadwal tidur dan makannya tak menentu, tak mudah menerima makanan baru, dan lambat menyesuaikan diri dengan rutinitas baru. Ia pun lambat beradaptasi dengan lingkungan baru dan susah dekat dengan orang asing, gampang ngambek atau marah, cengeng, dan sering menunjukkan mood negatif.

KONTRIBUSI IBU

Para ahli berpendapat, temperamen lebih banyak ditentukan oleh faktor genetik atau keturunan. Tapi bukan berarti semata karena keturunan jika seorang bayi lantas berperilaku sulit. “Interaksi dengan lingkungan juga ikut memberi kontribusi,” jelas Evi.

Yang perlu dicermati, lanjutnya, adalah masa prenatal, saat bayi berada di kandungan. “Kondisi fisik dan psikis ibu saat hamil ikut memberi kontribusi pada sifat anak yang dikandungnya kelak,” papar Evi. Apakah selama hamil sang ibu sering merasa cemas, depresi, atau takut? Nah, semua itu akan berpengaruh pada bayi yang tengah dikandungnya. “Hal-hal tersebut bisa membawa kontribusi pada terjadinya perilaku sulit pada bayi. Misalnya, jika ibu sering mengkonsumsi obat-obatan, maka bisa berakibat anak yang dilahirkannya menjadi hiperaktif atau gampang marah,” lanjut psikolog lulusan Unpad Bandung ini.

Karena itu, ketika hamil, sang ibu sebaiknya harus lebih menjaga kandungan dan keseimbangan tubuhnya. Baik secara fisik maupun psikis. Secara fisik, misalnya mengkonsumsi vitamin atau gizi yang cukup. “Itu, kan, juga membantu pertumbuhan janin yang ada di kandungannya,” tutur Evi.

Di sisi lain, secara psikis ibu harus mengurangi tingkat emosionalnya. “Usahakan jangan terlalu cemas dan kurangi depresi. Jika ibu stres atau secara psikis merasa tak seimbang, sebaiknya cepat konsultasi kepada ahli untuk membantu mengurangi tekanan yang dialaminya,” tambahnya. Sebab, faktor-faktor psikis ibu ini secara tak langsung akan mempengaruhi janinnya.

Interaksi ibu dengan lingkungannya, menurut Evi, juga bisa berpengaruh pada si bayi kelak. Contohnya lingkungan kerja yang membuat ibu stres. “Jika si ibu tahan terhadap stres, mungkin enggak masalah. Tapi kalau sebaliknya, bisa menjadi masalah,” ujar Evi.

JUSTRU SUKSES

Kendati demikian, tak berarti seorang bayi sulit akan berkembang menjadi anak atau orang dewasa yang sulit pula. Sebab, seperti dikatakan Eisenberg, Murkoff & Hathaway dalam bukunya yang dialihbahasa, Bayi pada Tahun Pertama: Apa yang Anda Hadapi Bulan per Bulan?, dengan bantuan ayah-ibu, bayi sulit dapat belajar mengarahkan dan mengembangkan sifat-sifat kepribadiannya dan mengubahnya dari hal yang merugikan menjadi hal yang bermanfaat. Si kecil dapat berubah dari bayi yang sangat bermasalah menjadi orang dewasa yang sangat sukses.

Karena itu, tandas Evi, penting bagi orangtua untuk bisa menerima perilaku bayi sulit. “Jangan menuntut bayi harus tidur teratur, gampang tersenyum, atau tak pernah rewel. Orangtua harus peka terhadap keinginan si kecil. Jika orangtua tahu bayinya berperilaku sulit, maka tak ada salahnya ia bersikap fleksibel,” papar psikolog ini.

Tampaknya memang tak mudah hidup dengan bayi sulit. Tapi jika Anda mau menjalaninya dengan banyak kasih, panjang sabar, dan pengertian, maka hasilnya kelak bisa sangat memuaskan.

Hasto Prianggoro.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: