Senam Otak (Cara Lain Mengatasi Kesulitan Belajar pada Anak)

Ternyata, agar berfungsi dengan optimal, otak bisa “diajak bersenam”. Apalagi, bila si kecil termasuk anak yang mengalami kesulitan dalam belajar. Tentu saja, gerakan yang dilakukan tidak boleh sembarangan. Senam otak (brain gym) adalah rangkaian latihan gerakan sederhana yang dilakukan untuk memudahkan kegiatan belajar. Rangkaian gerakan yang dilakukan bisa memperbaiki konsentrasi belajar si kecil,meningkatkan rasa percaya diri, menguatkan motivasi belajar, serta membuatnya lebih mampu mengendalikan stres. Itulah sebabnya, latihan ini cocok untuk si kecil, terutama untuk menunjang belajarnya disekolah . Cuma itu ? Tentu saja tidak. Senam otak juga sangat praktis,karena bisa dilakukan di mana saja, kapan saja, dan oleh siapa saja.

Porsi latihan yang tepat adalah sekitar 10-15 menit, sebanyak 2-3
kali dalam sehari.Latihan-latihan senam otak ini adalah inti dari
Educational Kinesiology. Sebenarnya, education berasal dari kata
latin, yakni educare; yang berarti menarik keluar. Sementara itu,
kinesiology berasal dari bahasa Yunani, yakni kinesis, artinya
gerakan. Jadi kinesiology adalah ilmu tentang gerakan tubuh manusia.

Educational Kinesiology, untuk selanjutnya disingkat Edu-Kinestetik,
merupakan metode yang dikembangkan oleh Paul E. Dennison, seorang
pendidik di Amerika, Direktur Valley Remedial Group Learning Center.
Metode yang diciptakannya ini bertujuan untuk menolong para pelajar
agar memanfaatkan seluruh potensi belajar alamiah (yang terpendam)
melalui gerakan tubuh dan sentuhan. Apalagi, ditemukan bahwa beberapa
anak berusaha terlalu keras, sehingga mekanisme integrasi otaknya
justru dilemahkan. Akibatnya, anak malah mengalami hambatan dan
kesulitan dalam belajar. Padahal, sebenarnya integrasi otak
diperlukan agar kegiatan belajarnya utuh.

Senam ini sebaiknya dilakukan ketika si kecil berusia 6 tahun. Sebab,
pada usia ini biasanya ia sudah dapat memberi respons terhadap apa
yang diinginkan oleh orang lain. Kalau pun tidak mampu merespons, ia
tetap dapat melakukan senam secara pasif. Artinya, dalam posisi
berbaring, si kecil tetap dapat dituntun untuk melakukan berbagai
gerakan.

Menelusuri sistem kerja otak

Otak memegang peranan yang sangat penting bagi kelangsungan hidup
manusia. Karena, organ yang beratnya 1400 gram dan memiliki volume
sekitar 230 cm3 ini merupakan pusat pengendali berbagai aktivitas
fisik maupun mental. Boleh dibilang, sistem kerja organ yang satu ini
memang begitu kompleks.

Otak itu sendiri merupakan kumpulan jaringan syaraf yang terlindungi
di dalam tengkorak. Jaringan syaraf yang tersusun dari bermilyar-
milyar neuron (sel syaraf) ini terbagi menjadi dua, yakni otak besar
(serebrum) yang terdiri dari belahan otak kanan dan kiri dan otak
kecil (serebelum).

Otak juga memiliki sistem komunikasi yang dapat bereaksi cepat dalam
mengorganisasikan dan merencanakan respons terhadap informasi atau
rangsangan yang masuk. Ketika informasi masuk, neuron (kesatuan
syaraf) akan “menelepon” neuron lainnya, “temannya”. Mula-mula pesan
akan diterima oleh dendrit (serabut pada neuron). Lalu, impuls pesan
tersebut disalurkan melalui “kabel telepon”, yakni sepanjang akson
(bagian dari neuron yang menyerupai batang). Selanjutnya, akson akan
meneruskan impuls ke sinaps, yakni serabut yang merupakan tempat
pertemuan antar-neuron yang hendak menyampaikan impuls pada neuron
lain. Dari sinaps, pesan berpindah ke dendrit yang terdapat pada
neuron lain. Proses penyampaian pesan seperti ini akan membentuk
respons, ingatan atau pikiran seseorang.

Masalahnya, seringkali informasi yang diterima otak tidak dapat
diekspresikan kembali secara utuh. Ketidakmampuan untuk mengungkapkan
apa yang telah dipelajari akan menimbulkan perasaan gagal dan stres,
sehingga semangat belajar si kecil pun berkurang. Bila ia kurang
belajar, tentu prestasinya akan kian merosot dan perasaan gagal akan
terus mendera. Karena itulah, otak si kecil perlu juga diajak
bersenam.

Senam otak bertujuan untuk mengaktifkan potensi belahan otak
(hemisfer) kanan dan kiri, sehingga pada akhirnya terjadi integrasi
atau kerja sama antar keduanya. Secara garis besar, hemisfer kiri
digunakan untuk berpikir logis dan rasional, menganalisa, bicara,
serta berorientasi pada waktu dan hal-hal yang terinci. Sementara
hemisfer kanan digunakan untuk hal-hal yang intuitif, merasakan,
bermusik, menari, kreatif, dan sebagainya. Selain itu hemisfer kiri
akan mengatur badan, mata dan telinga kanan, serta hemisfer kanan
akan mengontrol badan, mata dan telinga kiri. Nah, kedua hemisfer
ini “disambung” dengan corpus callosum, yakni simpul saraf kompleks
dimana terjadi transmisi informasi antar-belahan otak. Bila sirkuit-
sirkuit informasi dari kedua belahan otak cepat menyilang, maka
kemampuan belajar anak bisa “dibangkitkan”. Untuk membaca dengan
lancar, menulis dengan benar, mendengarkan dan berpikir pada saat
yang sama, kita memang harus mampu “menyeberang garis tengah” yang
menghubungkan otak bagian kiri dan kanan. Itu sebabnya, anak yang
disleksia (kesulitan membaca), disgrafia (kesulitan menulis), tidak
percaya diri, cenderung menarik diri dari pergaulan, atau hiperaktif
(terlalu aktif), dapat juga “diaktifkan” melalui senam otak ini.

PACE, kesiapan untuk belajar
Sebelum si kecil mulai belajar apapun, ia harus menjalani PACE. PACE
adalah empat keadaan yang diperlukan untuk belajar dengan menggunakan
seluruh otak, dan
PACE itu sendiri merupakan singkatan dari Positif,
Aktif, Clear (jelas) dan
Energitis
Untuk melakukan PACE ini, si kecil
harus memulainya dari Energetis
(minum air), Clear (melakukan pijatan
saklar otak), Aktif (melakukan gerakan
silang), serta Positif
(melakukan Hook Ups).


Minum Air

Minum air putih dalam jumlah cukup banyak, yaitu
0,3 – 0,4 liter / 10 kg Berat Badan (BB) sehari, kalau anak sedang
belajar. Misalnya saja, dengan BB 50 kg, ia harus minum sekitar 1,5 -
2 liter / hari. Namun, Kalau ia sedang sakit atau banyak berkeringat,
jumlah air putih yang diminumnya harus bertambah lagi, yakni menjadi
0,6 liter / 10 kg BB. Jadi, ia harus minum air sekitar 3 liter.

Air mempunyai banyak fungsi dalam badan untuk menunjang belajar anak.
Di antaranya adalah, darah lebih banyak menerima zat asam yang
diperlukan untuk belajar, melepas protein yang diperlukan untuk
belajar hal baru, melarutkan garam yang mengoptimalkan fungsi energi
listrik tubuh untuk membawa informasi ke otak, serta mengaktifkan
sistem limpa. Limpa berfungsi untuk mengangkut zat-zat gizi, hormon,
dan sebagai saluran pembuangan.

Memijat saklar otak
Pijatan ini memiliki beberapa manfaat
yakni mengkoordinasi kedua belahan otak, meningkatkan kelancaran
aliran darah (zat asam) ke otak, meningkatkan keseimbangan badan,
serta meningkatkan kerja sama antar-kedua mata, sehingga dapat
mengurangi kejulingan.

Pijatan pada titik ini akan meningkatkan peredaran darah ke otak.
Berat otak kira-kira 1/50 dari berat badan, namun untuk berfungsi
optimal diperlukan 1/5 dari peredaran darah. Sementara itu, tangan di
pusat (perut) menyeimbangkan impuls-impuls yang berhubungan dengan
telinga bagian dalam dan berpengaruh pada kemampuan belajar.

Memijit Saklar Otak: Pijat lekukan di bawah tulang selangka, yakni di
kiri dan kana dari bidang dada. Sementara tangan lainnya menggosok
daerah pusat. Sambil melakukan latihan, gerakkan mata ke atas-bawah
dan kiri-kanan

Gerakan Silang
Otak mengapung di dalam cairan otak. Dan,
cairan otak ini memiliki beberapa fungsi, seperti melindungi otak
dari gegar otak, di samping berfungsi secara elektris. Seperti halnya
baterai mobil, otak manusia juga memerlukan sejenis alat elektro
kimiawi, agar arus listriknya dapat mengalir. Jika aliran cairan otak
tersendat-sendat, berarti telah terjadi ketidakseimbangan dalam
aliran informasi di otak. Hal ini juga berkaitan dengan sistem
informasi antar otak dan badan yang dapat terhambat koordinasinya.
Gerakan silang melancarkan peredaran cairan otak, sehingga gangguan
tersebut hilang.

Belahan otak kanan mengontrol belahan tubuh kiri, demikian juga
sebalikanya. Di samping itu, terdapat bagian otak dengan fungsi
tertentu, seperti menyangkut fungsi intelektual, kontrol otak, dan
emosi.

Perkembangan bayi normal mengarah pada koordinasi kiri dan kanan yang
makin serasi. Hal ini merupakan dasar pertumbuhan intelektual dan
mental. Gerakan yang sangat menunjang pertumbuhan itu adalah gerakan
merangkak. Dasar gerakan inilah yang merupakan awal fungsi koordinasi
keseimbangan.

Gerakan silang sangat bermanfaat bagi anak yang sulit belajar atau
yang mengalami kesulitan koordinasi. Gerakan ini memang memiliki
berbagai manfaat, seperti meningkatkan daya ingat dan daya pikir,
membuat pikiran lebih jernih dan meningkatkan koordinasi tubuh, dan
sebagainya.

Gerakan Silang prinsipnya adalah mempertemukan anggota gerak bagian kiri dan kana, misalnya tangan kiri dengan kaki kana. Agar koordinasi gerak ini lebih “terasa”, tangan kanan di samping tubuh. Sebenarnya, setiap gerakan silang merupakan sejenis gerak jalan yang lebih disengaja. Lakukan latihan beberapa kali dalam sehari selama 2-3 menit. Mulailah dengan gerakan pelan, agar dapat diperhatikan bagian tubuh yang bergerak dan tidak bergerak

Hook Ups
Latihan ini menghubungkan semua lingkungan fungsi
bio listrik tubuh. Kekacauan aliran energi dapat diatur kembali bila
energi beredar dengan lancar di bagian tubuh yang tadinya tegang.
Manfaatnya adalah si kecil menjadi lebih percaya diri, dan
perhatiannya akan lebih seksama.

Gerakan menyentuh ujung-ujung jari tangan akan menyeimbangkan dan
menghubungkan dua belahan otak. Ditambah dengan menempatkan lidah di
langit-langit mulut, maka perhatian dipusatkan pada otak bagian
tengah. Emosi di dalam sistem limbik (yang bertanggung jawab terhadap
informasi emosional dan otak besar untuk berpikir abstrak)
dihubungkan dengan otak bagian dahi, sehingga orang lebih seimbang
dan lebih mampu menyesuaikan dengan tuntutan belajar

Gerakan ini bisa dilakukan dalam posisi duduk, berbaring atau berdiri. Mata kaki kiri
disilangkan di atas kaki kanan. Tangan dijulurkan ke depan dan
disilangkan dengan posisi tangan kiri di atas tangan kanan dan jempol
ke arah bawah. Lalu, tangan diputar ke bawah dan ditarik sampai di
muka dada, sehingga jempol ke arah atas. Tutup mata dan tarik napas
dalam-dalam dengan lidah ditempelkan di langit-langit mulut sekitar 1
cm di belakang gigi.Buang napas panjang melalui mulut, dan lidah
lepaskan lagi. b. Kedua kaki agak meregang. Ujung-ujung jari kedua
tangan disambung dengan halus di depan dada, lalu lakukan napas dalam
selama 1 menit.

Beda dimensi, beda gerakan
Otak itu sendiri dibagi menjadi 3 dimensi, yakni dimensi lateralis
(otak kiri-kanan), dimensi pemfokusan (otak depan belakang), serta
dimensi pemusatan (otak atas-bawah). Masing-masing dimensi memiliki
tugas tertentu, sehingga gerakan senam yang harus dilakukan si kecil
juga bervariasi.

Dimensi lateralitas

Otak terdiri atas dua bagian, yakni kiri dan kanan, di mana masing-
masing belahan otak mempunyai tugas tertentu. Bila kerja sama antara
otak kiri dan kanan kurang baik, anak sulit membedakan antara kiri
dan kanan, gerakannya kaku, tulisan tangannya jelek atau cenderung
menulis huruf terbalik, sulit membaca dan menulis, mengikuti sesuatu
dengan mata, sulit menggerakkan mata tanpa mengikutinya dengan
kepala, tangan miring ke dalam ketika menulis, cenderung melihat ke
bawah sambil berpikir, keliru dengan huruf (seperti d dan b, p dan
q), serta menyebut kata sambil menulis.

Beberapa gerakan untuk dimensi ini adalah 8 Tidur dan Gajah

8 Tidur Berdiri dengan kaki agak meregang dan kepala menghadap ke
depan. Angkat tangan ke depan dan kepalkan, dengan posisi jempol
dalam keadaan mengacung. Gerakan dimulai dengan menaikkan jempol ke
kiri atas, dan turun ke bawah, lalu kembali ke titik awal. Hal yang
sama dilakukan pada sisi kana. Seiring dengan itu, mata mengikuti
gerakan yang sama. Ulangi gerakan sebanyak 5 kali untuk masing-masing
tangan, dan kedua tangan secara bersamaan. Manfaat : mengaktifkan
kerja sama kedua belahan otak, meningkatkan kemampuan penglihatan,
juga membedakan dan menghafal simbol, serta menghilangkan kekeliruan
dalam membedakan huruf.

Gajah:Seperti posisi gerakan 8 tidur, tetapi
kedua lutut sedikit ditekuk. Angkat tangan kiri lurus ke depan dengan
telapak tangan dalam keadaan terbuka, kemudian letakkan telinga di
atas bahu. Bayangkan tangan seolah-olah merupakan belalai gajah yang
bersatu dengan kepala. Lalu, mulailah membentuk angka 8 tidur. Mata
harus mengikuti gerakan tersebut. Lakukan gerakan ini, sekitar 10
kali untuk setiap tangan. Manfaat : mengaktifkan telinga bagian dalam
yang berpengaruh pada keseimbangan tubuh, mengkoordinasikan otak
untuk mengaktifkan kedua telinga dan mata, mengendurkan otot tengkuk,
meningkatkan daya ingat, dan koordinasi tubuh bagian atas dan bawah.

Dimensi pemfokusan

Pemfokusan adalah kemampuan untuk menyeberang “garis tengah
keterlibatan” yang memisahkan otak bagian belakang dan depan.
Informasi diterima oleh otak bagian belakang yang merekam semua
pengalaman, lalu informasi diproses dan diteruskan ke otak bagian
depan untuk mengekspresikannya sesuai tuntutan atau keinginannya.

Bila si kecil takut, gugup atau mengalami stres saat belajar, secara
refleks energi ditarik ke otak bagian belakang, sehingga otak bagian
depan mengalami kekurangan energi. Akibatnya, jawaban yang tadinya
sudah siap, tiba-tiba “terlupa” atau tidak mampu dijawabn dengan
sempurna. Refleks alamiah ini muncul bila seseorang merasa dirinya
dalam keadaan bahaya atau terancam hidupnya. Tidak ada waktu untuk
berpikir, namun ia harus segera “berjuang dan melarikan diri”. Karena
itu, tubuh akan segera menegangkan otot-otot dan memperpendek tendon
atau urat-urat di tubuh bagian belakang dari kepala sampai ke ke
kaki. Hal ini akan berpengaruh pada sikap tubuh dan mengacaukan
keseimbangan di dalam telinga dan orientasi gerak.

Bila tubuh telah terbiasa dengan refleksi pelindung tendon tersebut,
maka sulit untuk menghilangkannya. Gerakan meregangkan otot telah
terbukti efektif dalam mengendorkan urat dan otot sehingga energi
dapat mengalir sampai di otak bagian depan yang menunjang kemampuan
memahami, mengontrol gerakan dan tingkah laku yang logis untuk
melibatkan diri dalam kegiatan sosial.

Ciri khas jika otak bagian depan dan belakang kurang bekerja sama
adalah otot tengkuk dan bahu tegang, kurang bersemangat untuk
belajar, serta reaksi pelan. Lalu hambatam otak bagian belakang
berupa anak terlalu aktif, konsentrasi dan analisis anak dalam
rentang yang terlalu pendek, terlalu terinci, kurang fleksibel,
kadang-kadang agresif, kurang rileks atau istirahat untuk memikirkan
sesuatu lebih luas. Hambatan otak bagian depan berupa anak pasif,
melamun, bila stres bingung, hipoaktif (kurang aktif), serta
kemampuan untuk memperhatikan kurang, namun perasaan dan suasana
(merekam dengan jelas).

Contoh gerakan untuk dimensi ini adalah Burung Hantu.
Burung Hantu Berdiri dengan kedua kaki meregang. Letakkan telapak
tangan kiri pada bahu kanan, sementara tangan kanan dibiarkan
bebas.Sambil menengok ke kiri dan kanan, telapak tangan kiri “meremas-
remas” bahu. Tarik napas pada saat kepala menghadap lurus ke depan,
lalu buang napas ketika kepala ke samping. Ulangi untuk tangan
lainnya. Lakukan latihan sebanyak 10 kali.Manfaat : mengkoordinasikan
pendengaran, penglihatan dan gerakan tubuh; meningkatkan konsentrasi
dan sebagainya.

Abjad 8:Alfabet yang dibuat berdasarkan 8 tidur ini dapat dilakukan
anak dengan dua tangan (jarinya “dikunci”) bersama di udara dan di
papan tulis agar otot-otot besar di tangan, bahudan dada diaktifkan.
Kemudian, 8 tiudr digambarkan lebih kecil di kertas atau buku tulis
dan diikutinya dengan alat tulis. Tulislah 8 tidur beberapa kali,
lalu sambunglah dengan satu huruf pilihan, kemudian diteruskan lagi
dengan beberapa gerakan 8 tidur.Manfaat : mengaktifkan kedua belahan
otak, menunjang koordinasi tangan-mata, dapat membedakan dan
menghafal symbol dan huruf, dan sebagainya.

Dimensi pemusatan

Pemusatan adalah kemampuan untuk menyeberang garis pemisah antara
tubuh bagian bawah dan atas sesuai dengan fungsi-fungsi otak bagian
bawah dan atas, yaitu sistem limbik. Apa yang dipelajari harus dapat
dihubungkan dengan perasaan dan memberi arti. Bila kerja sama antar-
otak besar dan sistem limbik terganggu, si kecil sulit merasakan
emosi atau mengekspresikannya, cenderung bertingkah laku “berjuang
atau melarikan diri” serta dapat mengalami ketakutan yang berlebihan.
Dalam keadaan stres, tegangan listrik berkurang di otak besar,
sehingga fungsinya pun terganggu.

Tubuh manusia adalah satu sistem listrik yang sangat kompleks. Semua
kesan dan masukan melalui mata, telinga dan gerakan diubah ke dalam
sinyal listrik dan diteruskan melalui serabut saraf ke otak.
Sebaliknya, otak mengirim sinyal listrik lainnya untuk memerintah
cara bereaksi pada sistem penglihatan, pendengaran dan otot-otot.
Dengan gerakan untuk meningkatkan energi dan minum air, banyak energi
elektromagnetis menjadi lancar sehingga komunikasi antar-otak dan
badan terjamin.

Ciri khas jika otak bagian atas dan bawah kurang bekerja sama adalah
bila bagian atas yang terhambat. Misalnya saja, anak bicara dan
bertindak pelan, kurang fleksibel, sulit melompat, kurang
berkonsentrasi, kurang terorganisasi, penakut, kurang percaya diri,
ragu-ragu, sulit dalam hubungan sosial dan di sekolah. Bila bagian
bawah yang terhambat menyebabkan cepat hilang keseimbangan,
mengabaikan perasaan atau menilainya negatif, bicara dan bertindak
terlalu cepat, serta ingin mendiskusikan segala hal.

Contoh gerakan untuk dimensi ini adalah Tombol Bumi, Tombol
Keseimbangan, Tombol Angkasa, Pasang Telinga, Titik Positif, dan lain�
lain.

Tombol Bumi :Letakkan dua jari tangan kanan di tengah dagu, sementara
telapak tangan kiri di daerah pusat (perut). Jari-jari telapak tangan
kiri menunjuk ke bawah (lantai). Gerakan mata dari bawah (lantai) ke
atas (langit-langit), lalu kembali ke bawah sambil melakukan napas
dalam, yaitu menarik napas dalam-dalam, dan membuangnya secara
perlahan. Lakukan selama 1 menit atau sekitar 4-6 kali napas dalam.
Ulangi gerakan untuk tangan lainnya.Manfaat : melatih mata untuk
melihat benda jauh-dekat, meningkatkan koordinasi tubuh, dan lainnya.

Tombol Keseimbangan:Sentuhlah tombol keseimbangan yang
terletak di belakang telinga kiri di perbatasan rambut (bawah tulang
tengkorak) dengan beberapa jari tangan kiri. Sementara itu, letakkan
telapak tangan di daerah pusat. Posisi kepala tetap lurus ke depan.
Setelah 30 detik, lakukan untuk tangan satunya lagi. Ulangi gerakan
hingga beberapa kali. Manfaat : meningkatkan konsentrasi, membuat si
kecil lebih siap menerima pelajaran.

Titik Positif: Sentuhlah dia titik dahi, kira-kira di antara perbatasan rambut dan alis. Lakukan selama 30-60 detik.Manfaat : menenangkan pikiran dan lain-lain.

Indita Indriana
Bahan : Pelatihan Brain Gym oleh Fakultas Psikologi Universitas
Indonesia, Jurusan Perkembangan, Juni 2001.
Konsultasi Ilmiah : dr. Ruswaldi Munir, Sp.KO, Kedokteran Olahraga-
Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia

About these ads

Satu Balasan ke Senam Otak (Cara Lain Mengatasi Kesulitan Belajar pada Anak)

  1. indra mengatakan:

    very good

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 28 pengikut lainnya.

%d bloggers like this: