Bahan Tambahan Pangan (BTP)

Seringkali kita memiliki prasangka buruk terhadap asupan bahan kimia dalam produk pangan. Padahal sebenarnya, seluruh makanan yang kita konsumsi sehai-hari pun merupakan senyawa kimia. Contohnya saja garam dapur yang merupakan senyawa Na Cl. Nasi sekalipun, merupakan senyawa kimia. Jadi tidak semua bahan kimia adalah zat asing yang otomatis akan ditolak oleh tubuh. Lebih jauh, mari kita kenali, apa saja jenis dan manfaat bahan tambahan pangan.

Manfaat BTP

Bahan Tambahan Pangan (BTP) saat ini seringkali kita temukan dalam makanan dan minuman kemasan hasil olahan industri. Mengapa BTP diperlukan? Karena BTP memiliki berbagai manfaat, selain mempertahankan dan memperbaiki nilai gizi makanan, menghambat kerusakan bahan oleh mikroba, mempertahankan kesegaran bahan, warna dan aroma, membantu proses pengolahan pangan, juga memperbaiki penampilan dan aroma pangan.

Jenis-Jenis BTP

Berdasarkan Permenkes RI No. 722/Menkes/Per/IX/88, BTP terdiri dari antioksidan, antikempal, pengatur keasaman, pemanis buatan, pemutih dan pematang tepung, pengemulsi, pemantap, pengental, pengawet, pengeras, pewarna alam dan sintetik, penyedap rasa dan penguat rasa, juga sekuestran.

Adapun BTP yang dilarang penggunaannya, adalah asam borak (Boric Acid) dan senyawanya,
asam salisilat dan garamnya (salicylic acid and its salt), dietilpirokarbonat (diethylpyrocarbonate, DEPC), dulsin (Dulcin), kalium klorat (potassium chlorate), kloramfenikol (chloramphenicol), minyak nabati yang dibrominasi (brominated vegetable oils), nitrofurazon (nitrofurazone), dan formalin (formaldehyde).

Pemanis Buatan

Pemanis buatan adalah BTP yang dapat menimbulkan rasa manis pada produk pangan tanpa atau sedikit mempunyai nilai kalori. Ada 13 pemanis buatan yang disetujui penggunaannya di Indonesia, yaitu alitam, aspartam, aselsulfam K, isomatl, laktitol, maltitol, manitol, neotam, sakarin,siklamat, silitol, sorbitol, sukralosa.

Keamanan Pemanis Aspartam Terhadap Kesehatan

Pemanis aspartam merupakan pemanis rendah kalori dengan kemanisan 200 kali kemanisan gula (sukrosa). Terbuat dari penggabungan dua asam amino, yaitu fenilalanin, dan asam aspartat, serta sejumlah kecil metanol. Bahan-bahan tersebut juga dapat kita temukan dalam makanan kita sehari-hari, seperti pada daging, susu, buah dan sayuran.

Aspartam dapat dimetabolisme oleh tubuh secara sempurna, seperti bahan protein lainnya. Saat dicerna, aspartam akan terurai menjadi komponen-komponennya, yaitu asam aspartat, fenilalanin dan metanol. Selanjutnya tubuh mempergunakan komponen tersebut sebagaimana komponen serupa yang dijumpai dalam makanan yang dimakan sehari-hari.

Kandungan komponen aspartam pada makanan dan minuman, dapat dilihat pada ilustrasi di bawah ini:
•1 gelas susu mengandung 6x lebih banyak fenilalanin dan 13x lebih banyak asam aspartat daripada 1 gelas minuman dengan pemanis buatan

•1 gelas jeruk mengandung metanol yang sama dengan 1 gelas minuman pemanis buatan

Acceptable Daily Intake (ADI) adalah batasan jumlah suatu BTP yang dapat dikonsumsi per kg berat badan per hari seumur hidup tanpa suatu resiko. ADI aspartam adalah 40mg/kg BB/hari. Seseorang dengan berat badan 50 kg, maka boleh mengkonsumsi aspartam sebanyak 2 gr/hari. Hal ini setara dengan mengkonsumsi 50 sachet pemanis aspartam dalam bentuk sediaan (tabletop sweetener) sehari.

Peneltian pengguna aspartam telah dilakukan pada orang yang obesitas, diabetes, anak-anak, wanita hamil/menyusui, dan penyakit hati. Pemakaian pemanis ini dianjurkan untuk orang sehat, obesitas, rumatan berat badan dan diabetes (1 gr aspartam mengandung 4 kalori, sebanding dengan manisnya 200 gr gula yang mengandung 800 kalori).

Aspartam telah diakui keamanannya oleh badan regulatory kesehatan di dunia, seperti WHO, US Food and Drug Administration, UK Food Standard Agency, dll, juga disetujui penggunaannya di lebih dari 100 negara di dunia. Lebih lanjut mengenai aspartam dapat diakses di http://www.aspartame.org.

Pengawet

Adalah BTP yang mencegah atau menghambat fermentasi, pengasaman atau peruraian lain terhadap makanan yang disebabkan oleh mikroorganisme yang dapat membahayakan tubuh seperti bakteri, jamur (mold) dan khamir (yiest).

Di negara-negara beriklim tropis seperti di Indonesia, makanan dan minuman akan sangat rentan terhadap bahaya kontaminasi pertumbuhan jamur dan khamir, sehingga akan dapat mengakibatkan gangguan kesehatan seperti disentri pada umumnya.

Penggunaan bahan pengawet dalam kaitan keamanan pangan telah diatur oleh badan internasional seperti The Joint FAO/WHO sebagai bagian dari bahan tambahan pangan. Pengawet yang cukup mendominasi penggunaannya di produk makanan dan minuman adalah natrium benzoat dan kalium sorbat.

Tidak banyak orang tahu bahwa asam benzoat juga terkandung secara alami pada cengkeh, cinnamon, dan buah berry. Menurut penelitian yang dilakukan WHO di tahun 2000, pada tikus, membuktikan bahwa pengawet ini tidak memperlihatkan efek penyebab kanker dalam jangka panjang. US Food Drug Administration memuat pengawet benzoat dalam list kategori aman asalkan tidak melebihi 0.1%. Banyak penelitian lainnya yang juga mendukung pernyataan bahwa sodium benzoat tidak berbahaya.

Jenis pengawet yang lain, yaitu kalium sorbat dapat menghambat pertumbuhan jamur dan khamir, serta banyak digunakan pada roti bakeri, keju, minuman buah jus, dll. Pengawet ini dinyatakan aman oleh JECFA/WHO dan terakhir dievaluasi tahun 1973.

Pelabelan Bahan Tambahan Pangan

Pada label BTP harus dicantumkan keterangan sekurang-kurangnya :
a. Nama produk
b. Daftar bahan yang digunakan atau komposisi
c. Berat bersih atau isi bersih
d. Nama dan alamat pihak yang memproduksi atau yang memasukkan BTP ke dalam wilayah Indonesia
e. Tulisan “Bahan Tambahan Pangan”
f. Nama golongan BTP
g. Nama BTP, dan nomor kode internasional yang dimilikinya
h. Nomor pendaftaran, untuk BTP yang harus didaftarkan
i. Tanggal kadaluwarsa
j. Takaran penggunaannya untuk BTP dalam kemasan eceran

Untuk Bahan Tambahan Pangan Pewarna :
a. Nomor Indeks pewarna;
b. Tulisan ”pewarna pangan” yang ditulis dengan huruf besar berwarna hijau dalam kotak persegi panjang berwarna hijau
c. logo huruf M dalam suatu lingkaran berwarna hitam

Untuk Bahan Tambahan Pangan Pemanis buatan
a. Kesetaraan kemanisan dibandingkan dengan gula
b. Jumlah pemanis buatan dalam kemasan sekali pakai
c. ADI (Acceptable Daily Intake), kecuali pemanis buatan yang tidak mempunyai ADI.
d. Tulisan ”mengandung fenilalanin, tidak cocok untuk penderita “fenilketonurik” (penyakit keturunan di mana penderita mengalami kekurangan enzim fenilalanin hidroksilase, sehingga tidak dapat mencerna asam amino fenilalanin di dalam dietnya sehari-hari), untuk pemanis buatan aspartam
e. Tulisan ”tidak digunakan untuk bahan yang akan dimasak atau dipanggang”, untuk pemanis buatan aspartam;
f. Tulisan ”konsumsi berlebihan akan menyebabkan efek laksatif” untuk pemanis buatan golongan poliol (sorbitol, laktitol, manitol, maltitol, silitol).

Pelabelan Pangan yang mengandung BTP
a. nama golongan bahan tambahan pangan
b. nama bahan tambahan pangan, untuk golongan antioksidan, pemanis buatan, pengawet, pewarna, dan penguat rasa;
c. Nomor indeks, khusus pewarna

Info lebih lanjut hubungi LIPIMM
Lena Prawira, 021 398 32385/86

Keterangan: LIPIMM adalah suatu lembaga yang dibentuk oleh Departemen Perindustrian, Departemen Perdagangan, Departemen Kesehatan dan Badan Pengawas Obat dan Makanan. Berperan dalam memberikan edukasi dan advokasi kepada konsumen mengenai keamanan produk makanan dan minuman di Indonesia.

Sumber: Diskusi Interaktif Seputar Bahan Tambahan Pangan oleh LIPIMM (Lembaga Informasi Produk Industri Makanan dan Minuman), 9 Maret 2007
Pembicara: Direktur Standarisasi Pangan BPOM, Irawati Susalit
Ahli Gizi Klinis, Dr Lanny Lestiani
Sekeretaris Jendral LIPIMM, Franky Sibarani


About these ads

2 Balasan ke Bahan Tambahan Pangan (BTP)

  1. Bernardine Anita mengatakan:

    semoga para produsen makanan di luar sana tidak menyalahgunakan bahan tambahan pangan ini…
    krn bila tidak sesuai aturan pakai, bahan tambahan pangan yang tidak berbahaya pun bisa jadi berbahaya untuk kesehatan…

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 28 pengikut lainnya.

%d blogger menyukai ini: